Kamis, 21 Juni 2012

Beberapa Nama Khidir dan Kelebihannya

Kisah Islamiah malam dengan Kisah Nabi Khidir as.
Siapa yang tak pernah dengar tentang keunikan Nabi Khidir as, pastinya semua pernah mendengarnya kan.

Nabi Khidir as

Kisahnya.
Asal nama Khidir dan beberapa kelebihannya.
Ada orang yang memanggilnya Khadir, Al-Khadir atau Al-Khidir.
Sesungguhnya nama ini diidentikkan dengan nama Allah SWT yang menyerupai malaikat. Bisa diungkapkan sebagian orang kalau ia berkenan, walaupun tidak semudah siapa yang menginginkan pertemuan dengannya.

Untuk itu, mari kita lihat beberapa riwayat yang menceritakan tentang Nabi Khidir as berikut ini.

Sementara itu, Ibnu Asakir dan sahabat-sahabatnya meriwayatkan, bahwa hamba Allah yang satu ini digelari "Khidir" karena perubahan warna di sekitarnya menjadi kehijauan bila ia sedang shalat di suatu tempat.

Sahabat Nabi yang bernama Ikrimah meriwayatkan yang serupa kepada Ibnu Abi Hatim.
Berkata Ikrimah,
"Dia digelari Khidir karena bila dia duduk di suatu tempat maka cahaya di sekitar tempat itu akan berubah menjadi kehijauan. Mungkin karena pakaiannya yang berwarna hijau."



Berkata As-Sayyidi,
"Apabila Khidir berdiri di atas suatu tanah lapang yan gersang, maka dimana kakinya berpijak akan ditumbuhi rumput yang masih hijau hingga menutupi kedua telapak kakinya. Hal ini terjadi karena kebaikan pribadinya."

Hal serupa diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Rasulullah SAW bahwa jika Khidir duduk di atas tumpukan jerami yang telah kering, maka jerami tersebut akan menjadi hijau kembali.

Bukan main kepribadian yang beliau miliki ini.
Wallahu A'lam..

Minggu, 17 Juni 2012

Awal Pertemuan Nabi Khidir dan Tirmidzi

Kisah islamiah sore dengan Kisah Nabi Khidir as.
Nabi Khidir as merupakan salah seorang nabi yang memiliki rahasia yang hanya Allah SWT saja yang mengetahuinya secara persis.

Pada kesempatan kali ini, admin kisah islamiah akan sedikit menceritakan bagaimana sebenarnya awal pertemuan antara Nabi Khidir as dan ulama terkenal at-Tirmidzi.


Kisahnya.
Pada suatu kesempatan, Muhammad bin Ali at-Tirmidzi bersama dengan dua orang lainnya bertekad untuk melakukan pengembaraan mencari ilmu. Namun, ketika mereka hendak berangkat, jadi sedihlah hati ibunya.

"Wahai buah hati ibu," kata sang ibu.
"Aku adalah seorang perempuan yang sudah tua dan lemah. Bila ananda pergi, maka tak ada lagi seorang pun yang ibunda punyai di atas dunia ini. Selama ini anandalah tempat ibu bersandar, kepada siapakah ananda menitipkan ibunda yang sebatang kara dan lemah ini?" tutur ibundanya.

Kata-kata itu menggoyahkan semangat Tirmidzi, dan akhirnya ia membatalkan niatnya. Sementara kedua sahabatnya tetap berangkat mengembara mencari ilmu.

Pada suatu hari, Tirmidzi duduk di sebuah pemakaman meratapi nasibnya.
"Di sinilah aku, tak ada yang peduli kepadku yang bodoh ini," guman Tirmidzi.
Sedangkan dua sahabtanya tadi hanya akan kembali sebagai orang-orang yang terpelajar dan berbeda dari sebelumnya.



Bertemu Orang Tua di Pemakaman.
Tiba-tiba saja muncullah seorang tua dengan wajah berseri menegur Tirmidzi.
"Nak...mengapakah engkau menangis?" tanya orang tua itu.
Akhirnya Tirmidzi menceritakan segala keluh kesahnya selama ini.

"Maukah engkau menerima pelajaran dariku setiap hari sehingga engkau dapat melampau batas kedua sahabatmu itu dalam waktu yang singkat?" tanya orang tua itu.
"Aku bersedia," jawab Tirmidzi.

Maka setiap haru orang tua itu memberikan pelajaran kepada Tirmidzi.
Setelah 3 tahun berlalu, barulah Tirmidzi menyadari bahwa sesungguhnya orang tua itu adalah Nabi Khidir as.
Tirmidzi memperoleh keberuntungan yang seperti itu karena telah berbakti kepada ibundanya.

Itulah sedikit kisahnya, bayangkan kawand dalam waktu tempo tiga tahun barulah disadari Syeikh Tirmidzi kalau sebenarnya orang tua tersebut adalah Nabi Khidir as.

Sabtu, 09 Juni 2012

Meninggal Tubuhnya Dikafani Malaikat

Kisah Islamiah malam dengan kisah Sakaratul Maut,kisah yang menceritakan tentang dicabutnya roh seorang manusia pecinta Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Kisahnya.
Semasa hidupnya Abu Abdillah adalah seorang yang sangat mencintai Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Apapun yang dikatakan oleh Rasulullah SAW, dia selalu mentaatinya.
Subhanallah....
Ketika meninggal dunia tubuhnya dikafani sendiri oleh Malaikat.

Sungguh sangat beruntung apa yang dialami oleh Abu Abdillah tersebut.
Dia manusia yang mati dalam kondisi yang baik atau Khusnul Khatimah.

Cerita ini bersumber dari Kitab Al Husayn ibn Sa'id Al Ahwani.
Diceritakan bahwa pada suatu saat Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib ra, Malaikat Jibril, Malaikat Mikail dan malaikat Isroil sedang berada di suatu tempat.
Di hadapan mereka terdapat seorang sahabat Nabi SAW, Abu Abdillah yang tengah sakit keras.

"Demi Allah, amalmu akan diterima dan dosamu akan diampuni oleh Allah," ujar Rasulullah SAW kepada Abu.

Pada saat itu Abu tidak dapat berbuat apa-apa, ia hanya terbaring lemah di hadapan mereka. Kemudian Malaikat Jibril mendekati Abu dan berkata kepada Rasulullah SAW,
"Orang ini mencintaimu, maka sayangilah ia."

Mencintai Rasulullah SAW.
Rasul SAW berkata kepada Malaikat Jibril,
"Wahai Jibril, sesungguhnya orang ini telah mencintai Allah, RasulNya, dan aku juga menyayanginya."

Begitu mendengar penuturan Rasulullah yang demikian, maka Malaikat Jibril kemudian mendekati Malaikat Maut,
"Wahai Malaikat maut, orang ini telah mencintai Allah, RasulNya selama hidupnya, maka sayangi dia dan lemah lembutlah terhadapanya."

Kemudian Malaikat Maut tersebut mendekat ke tubuh Abu yang lemah lunglai dan berbisik kepadanya,
"Wahai makhluk Allah, apakah kamu telah mendapatkan kebebasanmu, keselamatanmu dan ampunanmu?"
Terasa aneh, meskipun Abu yang sebelumnya tidak mampu berbicara karena tubuhnya lemah, mendadak saja ia mampu berbicara.
"Ya," jawab Abu.
"Apakah engkau berpegangan pada pegangan besar dalam kehidupan di dunia?" tanya Malaikat Maut lagi.
"Benar," jawab Abu lirih.

Tubuh berbau Harum.
"Siapakah mereka," tanya Malaikat Maut.
"Mereka adalah Nabi Muhammad SAW kekasihku dan Ali bin Abi Thalib," jawab Abu.

Kemudian Malaikat Maut berkata,
"Kamu telah berkata dengan benar. Allah SWT telah menganugerahimu keselamatan dari apa yang menakutkanmu dan kamu telah menerima apa yang kamu dambakan. Terimalah berita baik ini bahwa kamu telah bersama dengan para pendahulumu yang lurus."

Kemudaian Malaikat Maut menarik roh dari Abu dan menurunkan kain kafan serta minyak kasturi dari surga. Tak hanya itu, tubuh Abu dilumuri dengan minyak kasturi dari surga.
"Tidurlah seperti tidurnya seorang pengantin di ranjangnya. Terimalah berita gembira, kesegaran, keharuman dan kenikmatan dari Allah SWT," ujar Malaikat Maut.

Minggu, 03 Juni 2012

To Impelement "Islamization of Knowledge" Using Quranpedia

Pengkaji/pengarang: Khalid Yong, khalidyong@gmail.com


Pendahuluan

Alhamdulillah bersyukur kehadrat Allah SWT serta selawat dan salam kepada junjungan besar Nabi Muhammad SAW, seluruh ahli keluarga baginda, para sahabat/taabiin, para mujahid, para alim-ulama, para guru/ustaz, dan seluruh muslimin dan muslimat.




Dengan izin Allah SWT kita dapat berjumpa lagi. Pada siri yang lepas saya paparkan serba-sedikit tentang "God Intelligence vs Artificial Intelligence" sebagai pembuka selera atau "ulam" kepada pembentangan hasil kajian yang lebih berat, yang agak sukar untuk difahami sebab ianya agak teknikal dan tidak mudah untuk dipeprsembahkan secara santai.

Al-Quran, walaupun hanya mengandungi 6,236 ayat tetapi boleh menjelaskan segala perkara sebab Al-Quran itu sendiri adalah "super-super computer". Dengan mengkaji ayat-ayat Al-Quran kita akan dapat mencapai keyakinan tauhid yang bulat lagi padu, tidak ada tuhan selain Allah SWT yang maha esa, maha berkuasa, lagi maha mengetahui.



Semakin Teknikal

Kepada pembaca yang tidak berlatar-belakang ICT (komputer), mungkin agak sukar untuk memahami konsep "rekursif" atau dalam bahasa Quran "nusorriful aayat" (konsep tasrif) atau dalam bahasa Melayunya "penukar-gantian-ulangan simbol-simbol". Kita juga ada menyentuh tentang "propositions", subjek dan predikat, inferens, induktif, deduktif, makna semantik, sudah tentu lebih baik sekiranya kita juga faham "priori", "a posteriori", "analytic a priori", dan saya sangat menggalakkan para pembaca faham konsep "synthetic a priori".

Buat masa sekarang kita cuba aplikasikan "synthetic a priori" di mana ruang ilmu (knowledge domain) adalah Al-Quran yang kita infer dari ayat-ayat mutasyaabihat dengan berdalilkan ayat  Az-zumar 39:23. Sila rujuk kepada diagram di atas di mana saya cuba gabungkan konsep Quranpedia dengan konsep "Islamization of Knowledge".


Kita akan cuba gabungkan konsep Quranpedia yang saya cuba bina sejak tahun 2008, dengan konsep "Islamization of Knowledge" yang telah dibangunkan oleh Dr. Syed Naquib Al-Attas sejak awal tahun 1980an. Quranpedia adalah lebih teknikal sedangkan "Islamization of Knoledge" lebih kepada konsep filosofi (high level philosophical concept) yang mana sehingga ke hari ini belum ada satu aliran proses atau SOP (standard operating procedure) yang teratur dan sistematik untuk melaksanakannya.


Quranpedia adalah berasaskan metod Al-Quran bil Al-Quran (QbQ) seperti yang dikahendakki pada ayat Ali-Imran 3:7 dimana Quranpedia itu adalah "Ibu Kitab" dan AMD-RDBMS adalah penjanaan semantic web, hipotesis, premises, konsep, dan sebagainya. Kalau kita merujuk kepada diagram kita akan dapat melihat "rekursif" ayat-ayat Mutasyaabihat yang akan menjana ilmu-ilmu baru, disimpan ke dalam Quranpedia sebagai ayat-ayat Muhkamat, dan kemudian dirujuk semula oleh pakar-pakar bahasa dan mantiq untuk manjana lagi konsep, hipotesis, premises, dan sebagainya. Ianya akan berulang, berulang, berulang, ... sehingga dapat menjana 10 lautan-dakwat ilmu yang menjelaskan segala perkara!

 

Ayat Mutasyaabihat Menjana Ilmu Baru

Kita akan menjana bertrilion-trilion inferens dari ayat-ayat yang dikategorikan sebagai ayat-ayat mutasyaabihat. Di sinilah kita memerlukan kepakaran ahli bahasa Arab (seperti yang di syaratkan oleh Dr. Syed Naquib Al-Attas di dalam proses Islamization of Knowledge), serta pakar-pakar mantiq (ahli kalam) untuk membina silogisma 2 premis (atau lebih) untuk menjana konklusi-konklusi baru berkonsepkan "synthetic a priori" (seperti yang disarankan oleh Immanuel Kant).

Sebagai contoh bagaimana manusia boleh menjana ilmu "pizo dan piro elektrik" (sila rujuk kepada artikel-artikel sebelum ini). Al-Quran mengatakan "Manusia dijadikan dari tanah". Pada Al-A'raf 7:11 "Dia mencipta manusia kemudian memberi bentuk (membentukkan rupa) mereka" maksudnya manusia dicipta secara "dualism" (tenaga atau awan (cloud) dan mass atau matter). Ayat Saad 38:75 "...yang Aku ciptakan (manusia) dengan tanganKu". Kita bina silogisma berpremiskan 7:11 dan 38:75 yang akan menjana ilmu baru iaitu peizo-elektrik dan piro-elektrik. (Kalau tak faham tak apa, akan dijelaskan dengan detail dalam buku saya).

Perhatikan pada hakikatnya kita menggunakan "synthetic a priori", namun oleh kerana ilmu tentang piezoelectric dan pyroelectric sudah ditemui terlebih dahulu oleh saintis Barat (walaupun Al-Quran sudah menjelaskannya sejak 1,400 yang lampau), maka kita seolah-seolah membuat satu "reverse engineering" ilmu dengan menggunakan "analytic a posteriori"! Saya pada mulanya menggunakan istilah "Reverse-engineering of Knowledge", namun saya fikir ianya boleh juga dipanggil "Islamization of Knowledge" agar tidak memeningkan atau mengelirukan lagi kepala umat Islam.


Reverse-engineering of Knowledge vs Islamization of Knowledge

Saya tidaklah mendalami sangat tentang konsep "Islamization of Knowledge", namun apa yang saya faham (dah lupa dari sumber mana yang saya baca) secara teknikalnya ianya bermula dengan menukar dan mengislamkan hipotesis, premis, dan konklusinya sekali. Pada fikiran saya, sekiranya hipotesis dan premisnya ditukar, maka sudah tentu kita akan keluarkan konklusi baru, tidak lagi konklusi asal iaitu ilmu yang hendak diislamkan itu.
 
Lagipun bagaimana kita hendak membina hipotesis dan premis sedangkan sains Barat adalah berbentuk induktif dan impricisma. Bagaimana kita hendak mendapat sumber asal? Andaikata kita mampu membuatnya, tidakkah ianya memerlukan tenaga kepakaran yang ramai, memerlukan masa yang banyak dan perbelanjaan yang besar?
 
Buat masa ini apabila saya bercakap tentang "Islamization of Knowledge" apa yang ada dalam kepala saya ialah "reverse-engineering of knowledge", di mana saya mengambil ilmu-ilmu Barat kemudian saya mengkaji ayat-ayat Al-Quran yang menjelaskan ilmu-ilmu yang dijana oleh Barat. 

Berasa hairan, pelik dan ganjil?


Islamization of Knowledge (Mengislamisasikan Ilmu)

Konsep "Islamization of Knowledge" telah dipelupuri oleh dua tokoh Islam yang hebat dan terkenal iaitu Ismail Al-Faruqi dan Syed Naquib Al-Attas. Tuan-puan boleh membaca pendekatan (approach) dan metodologi yang terperinci dalam internet, tidak perlu saya ulas panjang lebar. Metod Al-Faruqi agak "akademik" dan teoritikal di mana 12-langkahnya adalah agak sukar untuk dipraktikkan. Namun saya bersetuju dengan Al-Faruqi tentang pengeluaran buku-buku teks, dan insyaallah akan saya cuba usahakan.

Sebagaimana yang dikatakan tadi, saya juga kurang jelas tentang metod "Islamization of Knowledge" yang dianjurkan oleh Dr. Syed Naquib, namun saya cuba kembangkan kaedah "knowledge confirmation, supervision, and direction", dan juga kepentingan bahasa (language). 

Secara amnya, apabila kita "islamkan" sesuatu ilmu Barat, maka ianya akan menjadi satu ilmu dan hukum yang nutral, yang kongruen, yang mesra-alam, yang sesuai dan sebati dengan fitrah atau hukum alam. Maksudnya unsur-unsur Islam sudah diselitkan secara automatis, secara sendiri, secara semulajadi. Inilah yang saya fahami konsep "knowledge confirmation" dalam proses "Islamization of Knowledge". Sesudah itu barulah boleh kita tentukan halatuju (direction), dan juga pengawasan (supervision). 



Penubuhan ISTAC dan Perkembangan Pesat ICTT


Apabila Barat memperkenalkan ICT (komputer) dan komunikasi tanpa wayar (wireless communication), umat Islam menerima pakai ilmu dan teknologi ini secara membuta-tuli tanpa merujuk kepada Al-Quran, iaitu tanpa ada proses islamisasi. Sekarang alhamdulillah, Syed Naquib telah memperkenalkan konsep "Islamization of Knowledge", dan kerajaan telah memberi mandat sepenuhnya kepada beliau untuk menubuhkan Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) yang telah berjaya ditubuhkan pada tahun 1987.


Mungkin atas faktor usia atau kesihatan maka Dr. Syed Naquib Al-Attas tidak lagi membimbing ISTAC. Saya pernah juga beberapa kali cuba mengadakan perbincangan dengan pakar-pakar di ISTAC, namun oleh kerana kesibukkan mereka maka temujanji-temujanji terpaksa dibatalkan disaat-saat akhir.


Walaupun agak berat bagi saya untuk mendedahkan segala usaha dan percubaan saya dalam menjayakan Quranpedia (dan juga Islamization of Knowledge), namun pada kali ini saya cuba dedahkan agar pembaca faham bahawa saya juga berusaha untuk menjayakan konsep Islamization of Knowledge (walaupun saya fikir akan terdapat banyak kesukaran teknikal), dan tidak cuba mengelirukan umat dengan idea asal iaitu "Reverse-engineering of Knowledge". 
 



Projek Percubaan: Islamization of Wireless Communication

Selain dari berbincang tentang ayat-ayat 51:1-11 (wireless communication), tujuan saya menghubungi dan membuat temu-janji dengan ISTAC (hampir 2 tahun yang lalu), ialah untuk mengadakan satu projek percubaan bagaimana Quranpedia boleh membantu menjayakan proses "Islamization of Knowledge". Oleh kerana saiz projek dan sumber yang banyak diperlukan, maka saya tidak mampu untuk mengadakan projek ini secara bersendirian dan berharap ISTAC (atau mana-mana IPTA lain bersedia untuk bekerjasama).

Saya fikir projek "Islamization of Wireless Communication" adalah menarik dan relevan sebab terdapat banyak ayat-ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang fenomena "wireless communication" lengkap dengan kesan kepada otak dan minda manusia. Selain dari 11 ayat yang berturut-turut dalam surah Az-Zaariyat (51:1-11) terdapat banyak lagi ayat-ayat lain yang menjelaskan tentang otak, minda, subliminal, dan sebagainya yang boleh kita infer banyak premis dan hipotesis.

Selain dari hasil "pengislaman ilmu", yang juga besar manfaat (dari projek percubaan ini) ialah kita boleh kukuhkan lagi proses "Islamization of Knowledge" agar ianya menjadi satu realiti, bukan teori kosong dan rhetoric sahaja.



"Yakin" = "maut"?

Sila rujuk kepada gambarajah di atas.


Apabila merujuk kepada "process flow" di atas, mungkin pakar-pakar hadith akan mengkritik definasi "yakin" sebab mengikut hadith "yakin" bermakna "maut atau mati". Sementara di dalam Al-Quran perkataan "yakin (dari perkataan akar "yaqina/yaiqinu") diulang sebanyak 18x, dan tidak ada satupun yang membawa makna "maut" atau "mati". 



Selain tidak membawa makna "kematian" (sekiranya diterjemahkan ayat 15:99 "beribadahlah kamu kepada Allah sehingga sampai kepada kamu kematian") ianya akan bercanggah dengan ayat-ayat lain seperti "maka celakalah orang-orang yang bersolat, iaitu orang-orang yang lalai dalam solat mereka" (Al-Ma'un 107:4-5), dan juga ayat (An-Nisa' 4:43) "wahai orang-orang beriman janganlah kamu mendekati solat (ibadah) sekiranya kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu mengerti dan tahu apa yang kamu perkatakan".    

Tujuan manusia beribadat ialah untuk mencapai keyakin (sebab manusia diberikan akal fikiran), bukannya beribadat tanpa sebab dan tujuan.


17x Minta Pertolongan Allah untuk Mencapai Keyakinan


Kita lihat dan kaji pula apa yang kita baca dalam solat 17x sehari (sekurang-kurangnya). Pada ayat ke-5 dalam surah Al-Fatihah kita ucap (bermaksud) "kepada Engkaulah kami sembah dan kepada Engkaulah kami minta pertolongan". Tujuan "sembah/mengabdikan diri" di sini untuk mencapai keyakinan terhadap ketauhidan, keesaan Allah SWT. Ianya dirangkai dengan "kepada Engkau kami minta pertolongan" supaya Allah memberi pertolongan kepada kita untuk mencapai keyakinan, mencapai "syiratal mustaqim, jalan yang lurus", bukannya meminta pertolongan agar Allah SWT sentiasa memudahkan kita berbuat ibadat (tetapi lalai dalam ibadat).


Walaubagaimanapun, saya tidak mengatakan ianya salah untuk memberikan makna "maut" kepada perkataan "yakin" sebab ianya telah dipersetujui oleh para alim ulamak. Namun oleh kerana kita menggunakan metod Al-Quran bi Al-Quran maka kita mesti menggunakan makna yang telah ditetapkan dalam Al-Quran, samada makna "uhkimat" atau makna "mutashaabih". 




Ulumu Quran


Kita sekarang berbincang tentang bagaimana Al-Quran menjelaskan segala perkara. Al-Quran adalah Kalam Allah, perkataan Allah SWT: diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dari Allah, dikumpul sendiri oleh Allah (75:17), disusun-atur sendiri oleh Allah (75:18), dan kemudian dijelaskan sendiri oleh Allah SWT (75:19). 





Mengkaji kitab Al-Quran adalah mengkaji Kalam Allah (perkataan Allah). Mengkaji Kalam Allah tidak sama dengan mengkaji kitab-kitab atau buku-buku lain. Sebagai contoh, Al-Quran tidak disusun seperti buku-buku biasa yang dibahagikan kepada bab atau topik tertentu. 

Saya amat bersetuju dengan Prof Dr. Mohd Asri Zainal Abidin yang mengatakan untuk mengkaji satu-satu ayat Quran mestilah melihat ayat-ayat lain secara total (lihat youtube "20110130 Dr. Asri - Ulum Quran - Asas Ilmu Tafsir"). Walaupun beliau bukan pakar ICT (komputer), namun beliau faham bahawa Al-Quran itu disusun seperti sebuah komputer (database atau knowledge base) yang mana ayat-ayatnya saling berkait, saling berpaut, untuk mendedahkan (menafsirkan) sesuatu ilmu dari kabur, dari samar-samar, dari mutasyaabihat kepada nampak-jelas, terang, difahami dan menjadi kukuh (muhkam).



Makna Perkataan "Tafsir"

Di dalam bahasa Melayu, kita banyak mengambil (meminjam) dari perkataan-perkataan  bahasa Arab. Antaranya ialah perkataan “tafsir”. Namun makna tafsir yang diguna dan difaham oleh kita (orang Melayu) tidak sama dengan makna "tafsir" dalam 25:33 "...Ahsana tafsiira". 

Yang kita faham ialah “menjelaskan” "atau "menerangkan" tetapi makna sebenarnya ialah "membuka" atau "mendedahkan" (to reveal or to disclose). Yang menjadi jelas dan terang sebab ianya dapat dibuka atau didedahkan. Oleh itu "Ahsana tafsiira" bukannya bermakna "sebaik-baik penjelasan" tetapi "sebaik-baik pendedahan".


Hanya terdapat sekali sahaja perkataan "tafsir" digunakan di dalam Al-Quran iaitu pada surah Al-Furqan 25:33.




Memberi makna “menjelaskan” tidaklah salah sebab tujuan “pendedahan” (to reveal) atau “pembukaan” (to disclose) adalah untuk menjadikan sesuatu perkara supaya nampak “lebih jelas (lebih terang)” dari kesamaran (dari mutashaabihat), supaya makna, maksud, dan kahendaknya nampak jelas, boleh difahami, dan diamalkan oleh manusia untuk mencapai tahap keyakinan kepada keesaan dan kekuasaan Allah SWT.


Tafsir Pada Mutasyaabihat

Apabila ayat-ayat Al-Quran dikaji dari sudut mutasyaabihat, iaitu dari sudut makna yang hampir serupa, yang seakan-akan sama, atau makna konsep, maka pelbagai "pendedahan" (tafsir) akan dapat dibuat sebab pelbagai inferens dapat dikeluarkan darinya.  Sebagaimana yang kita katakan diawal tadi, inferens-inferens inilah yang akan kita jadikan hipotesis dan premis untuk menghasilkan konklusi atau ilmu-ilmu baru.


Cuba perhatikan kepada pada ayat 25:32 Allah SWT menggunakan nahu almaf'ulul-mutlaq (warattalna-hu tartiila) sedangkan dalam ayat seterusnya 25:33 Allah SWT menggunakan ismul-tafdil (tidak almaf'ulul-mutlaq)?


bersambung, insyaallah ...


Wallahu a'lam.