Tidak ada yang mustahil bila Allah SWT menghendaki sesuatu.
Hal itu terjadi pada diri Isya' binti Faqudz, istri Nabi Zakaria a.s.
Betapa tidak, ia yang semula divonis sebagai wanita mandul, ternyata bisa mengandung dan melahirkan seorang bayi bernama Yahya.
Kisahnya.
Kisah Kebesaran Allah SWT tersebut terjadi pada zaman Nabi Zakaria a.s. Pemilik nama lengkap Zakaria bin Berkhiya tersebut diutus Allah SWT untuk menjadi nabi-Nya kaum Bani Israil. Kala itu, ketauhidan Bani Israil memang parah dan bobrok.
Bani Israil meninggalkan ajaran para Nabiyullah dan hidup berdasarkan aturan yang mereka ciptakan sendiri. Ironisnya, peraturan yang mereka buat telah melegalkan sesuatu yang diharamkan Allah SWT.
"Kembalilah menuju ajaran Allah dan tinggalkan hukum ciptaan kalian yang penuh maksiat itu," kata Nabi Zakaria kepada Bani Israil.
"Kami telah nyaman dengan aturan kami sendiri, jangan engkau menipu kami semua," jawab pemuka Bani Israil menantang.
"Demi Allah, sesungguhnya aku tidak menipu kalian," ujar Nabi Zakaria lagi.
Berulang-ulang kali Nabi Zakaria menyampaikan kebenaran, namun selalu kandas. Tidak banyak kaum Bani Israil yang menyatakan keimanan kepada Allah dan Zakaria sebagai Nabi-Nya. Dan diantara yang sedikit tersebut adalah Isya' binti Faqudz, hingga akhirnya Zakaria menikah dengannya.
Meskipun telah menikahi salah satu wanita dari Bani Israil tersebut, dakwah Nabi Zakaria tak kunjung berhasil.
Bani Israil masih sulit menerima hidayah berupa agama Allah SWT, bahkan Bani Israil sudah mulai nyaman dengan segala kemaksiatan dari aturan yang dibuatnya sendiri.
Petunjuk Allah SWT.
Karena lemahnya iman Bani Israil tersebut, Nabi Zakaria mulai merasa khawatir terhadap keselamatan diri dan keluarganya. Dari sekian kekhawatiran itu, beliau memohon kepada Allah SWT untuk diberi seorang anak sebagai penerus dakwahnya.
"Ya Tuhanku, berikanlah aku seorang putra yang akan mewarisi sebagian dari keluargaku yang akan meneruskan pimpinan dan tuntunanku kepada Bani Israil," doa Nabi Zakaria pada suatu malam saat bermunajat kepada Allah SWT.
Doa beliau rupanya didengar oleh Allah SWT.
Dalam Al Qur'an,Allah SWT berfirman,
هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
فَنَادَتْهُ الْمَلائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ
Artinya:
"Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa".
"Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): "Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi Termasuk keturunan orang-orang saleh".
Tentu saja kabar gembira itu disyukuri Nabi Zakaria. Beliau kemudian meminta kepada Allah SWT untuk memberitakan tanda mengenai kehamilan istrinya. Nabi Zakaria tahu jika istrinya sebenarnya adalah wanita mandul, namun beliau juga sangat yakin kalau Allah SWT berkuasa atas semuanya.
Doa Punya Anak.
Kemudian Malaikat Jibril diutus Allah SWT untuk menenemui Nabi Zakaria. Malaikat Jibril mengatakan bahwa tidak ada yang mustahil jika Allah SWT menghendaki sesuatu. Semuanya adalah mudah bagi Allah SWT.
Akhirnya, Malaikat Jibril mengatakan bahwa pertanda yang dimaksud berupa kebisuan Nabi Zakaria selama tiga hari tiga malam. Dalam kurun waktu itu, beliau hanya bisa berzikir dan menyebut nama Allah dengan isyarat.
Maka apa yang telah diputuskan Allah menjadi kenyataan.
Nabi Zakaria mendadak tidak dapat berbicara dengan siapapun selama 3 hari 3 malam. Isya' binti Faqudz pun benar-benar mengandung, Beberapa bulan berikutnya, ia melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Yahya.
Yahya telah disebutkan Allah mempunyai sifat dan akhlak yang sangat terpuji. Ia lahir ketika Nabi Zakaria berumur 120 tahun dan istrinya berumur 98 tahun.
Kisah tersebut diabadaikan dalam Al Qur'an.
وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ
Artinya:
"Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: "Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri[1] dan Engkaulah waris yang paling Baik[2].
[1] Maksudnya: tidak mempunyai keturunan yang mewarisi
[2] Maksudnya: andaikata Tuhan tidak mengabulkan doanya, Yakni memberi keturunan, Zakaria menyerahkan dirinya kepada Tuhan, sebab Tuhan adalah waris yang paling baik.
Ayat tersebut juga kerap kali diamalkan oleh pasangan suami istri yang mendambakan lahirnya seorang anak.
Kamis, 13 Oktober 2011
Selasa, 11 Oktober 2011
Belajar Akhlak dari Keledai
Adalah Luqman Hakim yang telah memberikan teladan yang baik sebagai orang tua.
Ia menanamkan nilai-nilai kebajikan kepada anaknya dan salah satunya adalah larangan menyekutukan Allah SWT.
Kisahnya.
Di dalam Al Qur'an terdapat beberapa ayat yang menyebutkan nama Luqman Hakim.
Allah SWT berfirman,
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Artinya:
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
(QS. Luqman: 13).
Dalam sebuah riwayat yang diceritakan, pada suatu hari Luqman Hakim mengadakan perjalanan ke luar kota bersama putranya sambil menaiki seekor keledai. Pada saat ia masuk ke dalam pasar, anaknya mengikutinya dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu, sebagian orang berkata,
"Lihat, itu orang tua yang tidak tahu diri, dia enak-enakan naik keledai, sementara anaknya dibiarkan berjalan kaki."
Naik Keledai.
Luqman kemudian berhenti sejenak sambil memperhatikan perkataan orang yang didengarnya.
Kemudian Luqman turun dari keledainya, lalu diletakkan anaknya di atas keledainya. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya kembali.
Di tengah perjalanan, kembali beberapa orang melihatnya. Kemudian mereka pun usil dengan mengomentari keberadaan Luqman.
"Lihat, orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya enak-enakan menaiki keledai, sungguh kurang ajar anak itu," kata orang tersebut.
Mendengar kata-kata itu, Luqman kembali berhenti sebentar. Ia kemudian ikut menaiki keldai itu bersama anaknya. Namun demikian beberapa orang yang lain kembali mengoloknya.
"Lihat itu, dua orang menaiki seekor keledai, sungguh tidak punya rasa kasihan menyiksa keledai itu," kata orang yang lain.
Luqman sedikit kesal dengan komentar orang-orang yang ditemuinya.
Ia merasa tidak pernah merasa benar di mata orang-orang itu. Tetapi, untuk kesekian kalinya, Luqman dapat menerima ejekan itu.
Ia kemudian berhenti lagi dan turun dari keledai bersama anaknya. Luqman dan anaknya berjalan kaki sedangkan keledainya hanya dituntun saja. Akan tetapi belum jauh ia melangkah, ungkapan miring kembali diterimanya.
"Sungguh dua orang aneh berjalan kaki, padahal mereka membawa seekor keledai, kenapa tidak dikendarai saja," komentar orang yang lain lagi.
Nasehat Bijak.
Luqman dapat mengambil hikmah dari komentar orang-orang tersebut.
Dirinya kemudian menasehati anaknya tentang berbagai sikap manusia dan sesuatu yang diucapkannya.
"Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan amnusia. Maka bagi ornag yang berakal, tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan hanya kepada Allah SWT saja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap masalah," tutur Luqman kepada anaknya.
Kemudian Luqman Hakim berpesan kepada anaknya,
"Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, yaitu tipis keyakinan (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayaiorang), dan hilang kemuliaan hatinya (kepribadiannya), dan lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu adalah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya."
Dalam kesempatan lain, Luqman juga berpesan kepada anaknya aga tidak menyekutukan Allah SWT, sesungguhnya ia telah berada pada kezaliman yang besar.
Ia menanamkan nilai-nilai kebajikan kepada anaknya dan salah satunya adalah larangan menyekutukan Allah SWT.
Kisahnya.
Di dalam Al Qur'an terdapat beberapa ayat yang menyebutkan nama Luqman Hakim.
Allah SWT berfirman,
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Artinya:
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
(QS. Luqman: 13).
Dalam sebuah riwayat yang diceritakan, pada suatu hari Luqman Hakim mengadakan perjalanan ke luar kota bersama putranya sambil menaiki seekor keledai. Pada saat ia masuk ke dalam pasar, anaknya mengikutinya dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu, sebagian orang berkata,
"Lihat, itu orang tua yang tidak tahu diri, dia enak-enakan naik keledai, sementara anaknya dibiarkan berjalan kaki."
Naik Keledai.
Luqman kemudian berhenti sejenak sambil memperhatikan perkataan orang yang didengarnya.
Kemudian Luqman turun dari keledainya, lalu diletakkan anaknya di atas keledainya. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya kembali.
Di tengah perjalanan, kembali beberapa orang melihatnya. Kemudian mereka pun usil dengan mengomentari keberadaan Luqman.
"Lihat, orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya enak-enakan menaiki keledai, sungguh kurang ajar anak itu," kata orang tersebut.
Mendengar kata-kata itu, Luqman kembali berhenti sebentar. Ia kemudian ikut menaiki keldai itu bersama anaknya. Namun demikian beberapa orang yang lain kembali mengoloknya.
"Lihat itu, dua orang menaiki seekor keledai, sungguh tidak punya rasa kasihan menyiksa keledai itu," kata orang yang lain.
Luqman sedikit kesal dengan komentar orang-orang yang ditemuinya.
Ia merasa tidak pernah merasa benar di mata orang-orang itu. Tetapi, untuk kesekian kalinya, Luqman dapat menerima ejekan itu.
Ia kemudian berhenti lagi dan turun dari keledai bersama anaknya. Luqman dan anaknya berjalan kaki sedangkan keledainya hanya dituntun saja. Akan tetapi belum jauh ia melangkah, ungkapan miring kembali diterimanya.
"Sungguh dua orang aneh berjalan kaki, padahal mereka membawa seekor keledai, kenapa tidak dikendarai saja," komentar orang yang lain lagi.
Nasehat Bijak.
Luqman dapat mengambil hikmah dari komentar orang-orang tersebut.
Dirinya kemudian menasehati anaknya tentang berbagai sikap manusia dan sesuatu yang diucapkannya.
"Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan amnusia. Maka bagi ornag yang berakal, tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan hanya kepada Allah SWT saja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap masalah," tutur Luqman kepada anaknya.
Kemudian Luqman Hakim berpesan kepada anaknya,
"Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, yaitu tipis keyakinan (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayaiorang), dan hilang kemuliaan hatinya (kepribadiannya), dan lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu adalah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya."
Dalam kesempatan lain, Luqman juga berpesan kepada anaknya aga tidak menyekutukan Allah SWT, sesungguhnya ia telah berada pada kezaliman yang besar.
Jumat, 07 Oktober 2011
Ongkos Mandi Akhirat
Pada suatu hari,Ibrahim bin Adham, seorang tokoh sufi besar mencoba memasuki sebuah tempat pemandian umum. Penjaganya meminta uang untuk membayar tiket masuk. Ibrahim menggeleng dan mengaku bahwa ia tidak punya uang untuk membeli karcis masuk.
Penjaga pemandian kemudian berkata,
"Jika engkau tidak punya uang, maka engkau tidak boleh masuk."
Seketika itu Ibrahim menjerit dan tersungkur di atas tanah. Dari mulutnya terdengar ratapan-ratapan kesedihan. Para pejalan kaki yang lewat berhenti dan berusaha menghiburnya.
Seseorang bahkan ada yang menawarinya uang agar ia dapat masuk ke tempat pemandian.
Ibrahim menjawab,
Aku menangis bukan karena ditolak masuk ke tempat pemandian ini atau karena aku tidak bisa masuk, ketika si penjaga meminta ongkos untuk membayar karcis masuk.
Melainkan aku langsung teringat pada sesuatu yang membuatku menangis. Jika aku tidak diizinkan masuk ke pemandian dunia ini karena tidak mampu membeli tiket masuk, lalu harapan apa yang dapat kumiliki agar aku diizinkan memasuki surga?
Apa yang akan terjadi kepadaku jika mereka menuntut, amal saleh apakah yang telah aku bawa?
Apa yang telah engkau kerjakan cukup berharga?
Sama seperti ketika aku diusir dari pemandian karena tidak mampu membayar, aku tentu tidak akan diperbolehkan memasuki surga jika aku tidak mempunyai amal saleh sedikitpun.
Itulah sebabnya aku menangis dan meratap.
Orang-orang yanga ada di sekitarnya begitu mendengar ucapan Ibrahim langsung terjatuh dan menangis bersama Ibrahim.
Penjaga pemandian kemudian berkata,
"Jika engkau tidak punya uang, maka engkau tidak boleh masuk."
Seketika itu Ibrahim menjerit dan tersungkur di atas tanah. Dari mulutnya terdengar ratapan-ratapan kesedihan. Para pejalan kaki yang lewat berhenti dan berusaha menghiburnya.
Seseorang bahkan ada yang menawarinya uang agar ia dapat masuk ke tempat pemandian.
Ibrahim menjawab,
Aku menangis bukan karena ditolak masuk ke tempat pemandian ini atau karena aku tidak bisa masuk, ketika si penjaga meminta ongkos untuk membayar karcis masuk.
Melainkan aku langsung teringat pada sesuatu yang membuatku menangis. Jika aku tidak diizinkan masuk ke pemandian dunia ini karena tidak mampu membeli tiket masuk, lalu harapan apa yang dapat kumiliki agar aku diizinkan memasuki surga?
Apa yang akan terjadi kepadaku jika mereka menuntut, amal saleh apakah yang telah aku bawa?
Apa yang telah engkau kerjakan cukup berharga?
Sama seperti ketika aku diusir dari pemandian karena tidak mampu membayar, aku tentu tidak akan diperbolehkan memasuki surga jika aku tidak mempunyai amal saleh sedikitpun.
Itulah sebabnya aku menangis dan meratap.
Orang-orang yanga ada di sekitarnya begitu mendengar ucapan Ibrahim langsung terjatuh dan menangis bersama Ibrahim.
Kamis, 06 Oktober 2011
Tobatnya Putra Raja
Ibrahim bin Adham meninggalkan semua kemewahan istana setelah menyaksikan keajaiban dari pedagang yang jujur. Meskipun tangan dan kaki pedagang itu terikat, ia masih bisa makan dan minum dari seekor burung gagak.
Kisahnya.
Menjadi putra mahkota dengan sejumlah fasilitas mewah dan perlakuan istimewa tak membuat hati Ibrahim bin Adham merasa damai. Karenanya, ia memutuskan untuk meninggalkan semua kemewahan itu. Seluruh hartanya ia wakafkan, hanya menyisakan satu potong baju saja untuk melakukan shalat.
Saat makan pun ia tidak berlebihan, hanya untuk mengganjal perutnya dari rasa lapar. Namun, dibalik semua keterbatasan itu, Ibrahim malah merasakan kedekatannya dengan Allah SWT.
Semua itu dirasakan Ibrahim dari perjalanan yang sangat panjang. Saat menjadi putra mahkota, Ibrahim menjadi pemuda yang sombing dan kerap menganiaya yang lemah.
Pada suatu hari, di kamar tidurnya ditiduri oleh seorang pembantunya. Melihat hal itu, Ibrahi sangat marah dan ia tidak rela kamarnya yang harum dan bertebaran bunga mawar dituduri seorang pembantu yang lusuh dan kotor.
Secepat kilat Ibrahim memukul pembantunya itu sampai puas.
"Mohon ampun, hamba tidak sengaja," kata pembantunya meminta maaf.
Ibahim tidak mengndahkan permintaan maaf itu. Sebaliknya, ia makin keras memukul hingga pembantunya terbaring lemah dan lumpuh.
Bertemu Seorang yang Mencari Onta.
Perilaku kejam Ibrahim mulai sedikit berubah setelah diingatkan oleh seorang pemilik onta. Kala itu, si pemilik onta memanjat ke atas genting istananya dengan mengendap-endap.
"Hai, apa yang akan kau curi di istanaku?" gertak Ibrahim yang tengah mengetahui keberadaan orang asing itu.
"Aku sedang mencari untaku yang hilang," jawab orang asing itu.
"Apakah Anda sudah gila dengan mencari unta di atap istana?" kata Ibahim yang mulai marah.
"Hai putra raja, jika begitu, Anda juga gila. Anda juga mencari Tuhan dengan kemewahan dalam istana," kata orang asing itu lalu melartuikan diri.
Kata-kata terakhir dari pemilik unta itu membuat Ibrahim termenung. Ia mencoba mencerna ucapan yang penuh makna itu. Akhirnya Ibrahim memutuskan untuk meninggalkan istana. Ia berusaha mencari guru agama untuk memperkaya batinnya.
Dalam perjalanan, ia duduk istirahat di bawah sebuah pohon yang rindang sambil menikmati makanan. Tiba-tiba saja ada seekor burung gagak mendekat dan mengambil secuil makanannya itu
Namun anehnya, burung gagak itu tidak langsung memakan makanan itu, burung itu hanya mengapit makanan di paruhnya kemudian terbag lagi.
"Aneh, mengapa burung itu hanya mengambil makananku tanpa langsung memakannya?" pikir Ibrahim.
Ibrahim Bertobat.
Ibrahim memutuskan untuk mengikuti burung itu. Burung itu ternyata berhanti di depan seorang pria yang tangan dan kakinya terikat di sebuah pohon. Dengan menggunakan paruhnya, burung itu memberi makan pria itu.
Tak berapa lama, Ibrahim mendekati pria yang terikat di pohon.
"Wahai saudarku, mengapa kamu diikat seperti ini?" tanya Ibrahim.
"Aku kehilangan barang dagangan karena dirampok," jawab pria itu.
"Kapan engkau dirampok?" tanya Ibrahim lagi,
"Seminggu yang lalu dan selama ini, burung gagak itulah yang memberikan makan dan minum kepadaku," jawab pria itu.
"Subhananllah...apa yang telah engkau perbuat sehingga Allah masih memberikan rezeki meskipun tangan dan kakimu diikat?" tanya Ibrahim penasaran.
"Wahai pemuda, aku selalu jujur dalam berdagang. Dan perutku tak pernah memakan makanan yang subhat (tidak jelas), maupun makanan haram," jelas pedagang itu.
Sejak saat itulah Ibrahim benar-benar bertobat kepada Allah swt. Ia menempuh jalan sufi dan zuhud. Ia belajar agama kepada para tokoh sufi dan diantaranya adalah Imam Hanifah.
Kisahnya.
Menjadi putra mahkota dengan sejumlah fasilitas mewah dan perlakuan istimewa tak membuat hati Ibrahim bin Adham merasa damai. Karenanya, ia memutuskan untuk meninggalkan semua kemewahan itu. Seluruh hartanya ia wakafkan, hanya menyisakan satu potong baju saja untuk melakukan shalat.
Saat makan pun ia tidak berlebihan, hanya untuk mengganjal perutnya dari rasa lapar. Namun, dibalik semua keterbatasan itu, Ibrahim malah merasakan kedekatannya dengan Allah SWT.
Semua itu dirasakan Ibrahim dari perjalanan yang sangat panjang. Saat menjadi putra mahkota, Ibrahim menjadi pemuda yang sombing dan kerap menganiaya yang lemah.
Pada suatu hari, di kamar tidurnya ditiduri oleh seorang pembantunya. Melihat hal itu, Ibrahi sangat marah dan ia tidak rela kamarnya yang harum dan bertebaran bunga mawar dituduri seorang pembantu yang lusuh dan kotor.
Secepat kilat Ibrahim memukul pembantunya itu sampai puas.
"Mohon ampun, hamba tidak sengaja," kata pembantunya meminta maaf.
Ibahim tidak mengndahkan permintaan maaf itu. Sebaliknya, ia makin keras memukul hingga pembantunya terbaring lemah dan lumpuh.
Bertemu Seorang yang Mencari Onta.
Perilaku kejam Ibrahim mulai sedikit berubah setelah diingatkan oleh seorang pemilik onta. Kala itu, si pemilik onta memanjat ke atas genting istananya dengan mengendap-endap.
"Hai, apa yang akan kau curi di istanaku?" gertak Ibrahim yang tengah mengetahui keberadaan orang asing itu.
"Aku sedang mencari untaku yang hilang," jawab orang asing itu.
"Apakah Anda sudah gila dengan mencari unta di atap istana?" kata Ibahim yang mulai marah.
"Hai putra raja, jika begitu, Anda juga gila. Anda juga mencari Tuhan dengan kemewahan dalam istana," kata orang asing itu lalu melartuikan diri.
Kata-kata terakhir dari pemilik unta itu membuat Ibrahim termenung. Ia mencoba mencerna ucapan yang penuh makna itu. Akhirnya Ibrahim memutuskan untuk meninggalkan istana. Ia berusaha mencari guru agama untuk memperkaya batinnya.
Dalam perjalanan, ia duduk istirahat di bawah sebuah pohon yang rindang sambil menikmati makanan. Tiba-tiba saja ada seekor burung gagak mendekat dan mengambil secuil makanannya itu
Namun anehnya, burung gagak itu tidak langsung memakan makanan itu, burung itu hanya mengapit makanan di paruhnya kemudian terbag lagi.
"Aneh, mengapa burung itu hanya mengambil makananku tanpa langsung memakannya?" pikir Ibrahim.
Ibrahim Bertobat.
Ibrahim memutuskan untuk mengikuti burung itu. Burung itu ternyata berhanti di depan seorang pria yang tangan dan kakinya terikat di sebuah pohon. Dengan menggunakan paruhnya, burung itu memberi makan pria itu.
Tak berapa lama, Ibrahim mendekati pria yang terikat di pohon.
"Wahai saudarku, mengapa kamu diikat seperti ini?" tanya Ibrahim.
"Aku kehilangan barang dagangan karena dirampok," jawab pria itu.
"Kapan engkau dirampok?" tanya Ibrahim lagi,
"Seminggu yang lalu dan selama ini, burung gagak itulah yang memberikan makan dan minum kepadaku," jawab pria itu.
"Subhananllah...apa yang telah engkau perbuat sehingga Allah masih memberikan rezeki meskipun tangan dan kakimu diikat?" tanya Ibrahim penasaran.
"Wahai pemuda, aku selalu jujur dalam berdagang. Dan perutku tak pernah memakan makanan yang subhat (tidak jelas), maupun makanan haram," jelas pedagang itu.
Sejak saat itulah Ibrahim benar-benar bertobat kepada Allah swt. Ia menempuh jalan sufi dan zuhud. Ia belajar agama kepada para tokoh sufi dan diantaranya adalah Imam Hanifah.
Dibalik Pahitnya Jambu Merah
Pada sebuah teras rumah, ada seorang gadis manis. Dia menggerutu lirih,
"Sepertinya aku selalu merepotkan kakak-kakakku saja," desahnya.
"Begitu juga aku sering merepotkan orang lain," sambungnya.
Kemudian gadis kecil ini membayangkan sederet artis idola yang pernah dilihatnya di televisi.
"Mereka manis-manis dan hebat, aku ingin seperti mereka."
"Seandainya bisa, aku ingin menjadi salah satu dari mereka," sambungnya lirih.
Tanpa disadari, kebetulan ada seorang kakaknya yang sedang berada di balik jendela mendengarnya.
Mendengar suara itu, sang kakak lalu menghampiri adiknya. Kemudian diberikannya sebuah jambu dan sebuah permen pada adiknya itu.
"Adikku, makanlah jambu merah ini," kata kakaknya.
Lalu jambu merah itu dimakan oleh sang adik.
"Gimana rasanya jambu itu dik?" tanya sang kakak.
"Rasanya sepet kak," jawab si adik.
"Walaupun sepet, tapi kamu suka kan?"
"Iya kak."
"Selain dirimu, di luar sana masih banyak puluhan bahkan ribuan orang yang suka dengan jambu merah ini. Ingat walaupun rasanya sepet," kata kakak.
"Nah, begitu pula perihal dirimu dik. Dirimu itu ibarat sebuah jambu merah kamu mungkin rasanya sepet. Walaupun engkau merasa dirimu merepotkan kakakmu, dia akan tetap menyukaimu, menyayangimu. Di luar sana masih ada puluhan orang atau bahkan ratusan orang yang kamu kenal akan tetap menyukaimu dengan rasamu yang sepet itu," jelas sang kakak.
"Jadilah dirimu sendiri, engkau tidak perlu menjadi permen agar terlihat manis," ujar kakanya sembari menunjuk permen yang dipegang adiknya.
"Walaupun permen ini rasanya manis, banyak ibu-ibu yang nggak suka anaknya makan permen. Kakak kira bukan ibu-ibu saja, banyak orang dewasa yang tidak suka makan permen," imbuh kakaknya.
"Tetaplah menjadi jambu merah bagi kakakmu ini, karena pasti orang tidak akan melarang kita menyukai sebuah jambu," ujar kakanya sambil memeluk adiknya.
"Aku yakin, suatu saat nanti, waktu dan pengalaman yang akan mematangkan pribadimu," nasehat sang kakak.
Si adik sangat terharu mendengar nasehat kakaknya. Mereka berdua saling tersenyum lirih.
Lalu, sambil tertawa riang, mereka berlari keluar halaman untuk bermain di lapangan dekat rumahnya.
NB:
Untuk adikku tersayang yang ada di kampung sana, tak apa andai kamu selalu merepotkanku, jangan pernah membebani pikiranmu ya, Luv You Forever.
"Sepertinya aku selalu merepotkan kakak-kakakku saja," desahnya.
"Begitu juga aku sering merepotkan orang lain," sambungnya.
Kemudian gadis kecil ini membayangkan sederet artis idola yang pernah dilihatnya di televisi.
"Mereka manis-manis dan hebat, aku ingin seperti mereka."
"Seandainya bisa, aku ingin menjadi salah satu dari mereka," sambungnya lirih.
Tanpa disadari, kebetulan ada seorang kakaknya yang sedang berada di balik jendela mendengarnya.
Mendengar suara itu, sang kakak lalu menghampiri adiknya. Kemudian diberikannya sebuah jambu dan sebuah permen pada adiknya itu.
"Adikku, makanlah jambu merah ini," kata kakaknya.
Lalu jambu merah itu dimakan oleh sang adik.
"Gimana rasanya jambu itu dik?" tanya sang kakak.
"Rasanya sepet kak," jawab si adik.
"Walaupun sepet, tapi kamu suka kan?"
"Iya kak."
"Selain dirimu, di luar sana masih banyak puluhan bahkan ribuan orang yang suka dengan jambu merah ini. Ingat walaupun rasanya sepet," kata kakak.
"Nah, begitu pula perihal dirimu dik. Dirimu itu ibarat sebuah jambu merah kamu mungkin rasanya sepet. Walaupun engkau merasa dirimu merepotkan kakakmu, dia akan tetap menyukaimu, menyayangimu. Di luar sana masih ada puluhan orang atau bahkan ratusan orang yang kamu kenal akan tetap menyukaimu dengan rasamu yang sepet itu," jelas sang kakak.
"Jadilah dirimu sendiri, engkau tidak perlu menjadi permen agar terlihat manis," ujar kakanya sembari menunjuk permen yang dipegang adiknya.
"Walaupun permen ini rasanya manis, banyak ibu-ibu yang nggak suka anaknya makan permen. Kakak kira bukan ibu-ibu saja, banyak orang dewasa yang tidak suka makan permen," imbuh kakaknya.
"Tetaplah menjadi jambu merah bagi kakakmu ini, karena pasti orang tidak akan melarang kita menyukai sebuah jambu," ujar kakanya sambil memeluk adiknya.
"Aku yakin, suatu saat nanti, waktu dan pengalaman yang akan mematangkan pribadimu," nasehat sang kakak.
Si adik sangat terharu mendengar nasehat kakaknya. Mereka berdua saling tersenyum lirih.
Lalu, sambil tertawa riang, mereka berlari keluar halaman untuk bermain di lapangan dekat rumahnya.
NB:
Untuk adikku tersayang yang ada di kampung sana, tak apa andai kamu selalu merepotkanku, jangan pernah membebani pikiranmu ya, Luv You Forever.
Rabu, 05 Oktober 2011
Dialog Rasulullah dengan Iblis
Rasulullah SAW pernah bertanya kepada Iblis,
"Wahai Iblis, apakah ikhtiarmu atas umatku. Aku telah dibangkitkan untuk menyelamatkan manusia agar beriman kepada Allah SWT."
"Ya Rasulullah, demi kemuliaanmu aku akan bersungguh-sungguh menyesatkan umat manusia dari mengikuti ajaranmu. Aku akan mencampurkan lelaki dengan wanita supaya mudah aku menyelah di tengahnya," jawab Iblis.
"Wahai Iblis, apalagi yang engkau musykilkan?" tanya Rasulullah SAW.
"Ya Muhammad, sebenarnya aku amat heran dengan sikap umatmu dalam dua perkara, yaitu mereka mencintai Allah SWT, tapi pada masa yang sama mereka masih melakukan maksiat dan perbuatan munkar. Kedua, mereka sangat benci akan tabiatku, tetapi mereka masih mau mengikuti hasutanku," jawab Iblis.
Firman Allah SWT kepada Iblis,
"Sesungguhnya engkau adalah makhluk terkutuk, demi kemuliaanKu, akan Aku berikan kepada umat Muhammad dua kegembiraan, yaitu kecintaan mereka terhadapKu dan Aku jadikan penebus dosa di atas kesalahan yang telah mereka lakukan. Kedua, marahnya mereka terhadapmu akan Aku jadikan penebus dosa bagi maksiat yang telah mereka lakukan.."
Maka tercenganglah Iblis mendengar penjelasan sedemikian rupa dari Allah SWT.
Sadarlah Iblis bahwa umat Muhammad adalah umat yang disayangi Allah SWT Yang Maha Pengampun lagi Maha Mengasihi.
"Wahai Iblis, apakah ikhtiarmu atas umatku. Aku telah dibangkitkan untuk menyelamatkan manusia agar beriman kepada Allah SWT."
"Ya Rasulullah, demi kemuliaanmu aku akan bersungguh-sungguh menyesatkan umat manusia dari mengikuti ajaranmu. Aku akan mencampurkan lelaki dengan wanita supaya mudah aku menyelah di tengahnya," jawab Iblis.
"Wahai Iblis, apalagi yang engkau musykilkan?" tanya Rasulullah SAW.
"Ya Muhammad, sebenarnya aku amat heran dengan sikap umatmu dalam dua perkara, yaitu mereka mencintai Allah SWT, tapi pada masa yang sama mereka masih melakukan maksiat dan perbuatan munkar. Kedua, mereka sangat benci akan tabiatku, tetapi mereka masih mau mengikuti hasutanku," jawab Iblis.
Firman Allah SWT kepada Iblis,
"Sesungguhnya engkau adalah makhluk terkutuk, demi kemuliaanKu, akan Aku berikan kepada umat Muhammad dua kegembiraan, yaitu kecintaan mereka terhadapKu dan Aku jadikan penebus dosa di atas kesalahan yang telah mereka lakukan. Kedua, marahnya mereka terhadapmu akan Aku jadikan penebus dosa bagi maksiat yang telah mereka lakukan.."
Maka tercenganglah Iblis mendengar penjelasan sedemikian rupa dari Allah SWT.
Sadarlah Iblis bahwa umat Muhammad adalah umat yang disayangi Allah SWT Yang Maha Pengampun lagi Maha Mengasihi.
Sabtu, 01 Oktober 2011
Curhat Iblis kepada Nabi Yahya
Iblis pernah curhat dan membuka rahasianya kepada Nabi Yahya a.s.
Pada kesempatan itu, Iblis menguraikan tentang 3 golongan keturuanan Nabi Adam a.s serta trik-triknya dalam menjerusmuskan manusia.
Adalah Abdullah bin Muhammad bin Ubad telah meriwayatkan dengan isnadnya dari Wuhaib bin Ward dalam kitab Aakamul Marjan.
Abdulah berkata, suatu saat Iblis menampakkan diri kepada Nabi Yahya a.s.
Kisahnya.
Dalam kesempatan itu, Iblis membagi anak turun Nabi Adam a.s menjadi 3 golongan.
"Sungguh aku akan menasehatimu," ujar iblis.
"Bohong, engkau laknatullah, engkau tidak akan menasehatiku, tetapi kabarkanlah kepadaku tentang anak cucu Nabi Adam a.s," ucap Nabi Yahya a.s.
"Wahai kekasih Allah, sesungguhnya anak cucu Adam itu ada tiga golongan," ujar iblis yang terlihat dengan sungguh-sungguh.
"Ceritakanlah kepadaku," tutur Nabi Yahya a.s lagi.
Menunda Bertobat.
Kemudian iblis bercerita, bahwa golongan pertama adalah golongan umat yang melonggarkan waktu untuk beristighfar dan bertobat. Golongan tersebut adalah golongan yang paling berat dan paling sulit dipengaruhi oleh iblis.
"Kami telah betul-betul berusaha sekuat tenaga untuk menggodanya, tetapi mereka merusak segala upaya kami dengan beristighfar dan bertobat. Kami menguiangi lagi, tetapi mereka juga mengulangi istighfar dan betobat. Kami tidak putus asa, tetapi tidak mendapatkan tujuan kami padahal telah bersusah payah," ujar iblis.
"Kemudian bagaimana dengan golongan yang kedua," tanya Nabi Yahya a.s.
Iblis kemudian menjelaskan bahwa golongan anak cucu Adam yang kedua adalah orang yang lalai atas perintah Allah SWT.
"Mereka itu di tangan-tangan kami seperti bola yang ada di tangan anak-anak kalian, kami menyambar dengan cepat sekehendak kami, sungguh kami telah menguasai mereka," jawab Iblis.
Kemudian bagaimana dengan golongan yang ketiga," tanya Nabi Yahya a.s lagi.
"Golongan yang ketiga itu adalah orang-orang yang sepertimu, yang terjaga dari kesalahan (maksum), kami tidak berkuasa sama sekali atas orang-orang yang memiliki kelebihan seperti dirimu," jawab iblis.
"Apakah engkau benar-benar tidak kuasa atas diriku?" tanya Nabi Yahya a.s.
"Tidak, kecuali satu kali saja, yaitu pada saat kamu mendatangi makanan dan memakannya, kami tak henti-hentinya menyenangkan kamu makan melebihi batas dan diluar kebutuhan, maka malam itu engkau tidur nyenyak dan tidak shalat malam seperti biasanya," jawab iblis.
Orang yang paling disenangi dan dibenci Iblis.
"Tak diragukan lagi iblis, aku tidak akan makan kenyang karena makanan selamanya," ucap Nabi Yahya a.s.
"Sudah tentu, aku tidak akan menasehati anak cucu Adam sesudahmu," ujar iblis balik.
Dalam riwayat lain, dalam kitab Aakamul Marjan juga dijelaskan melalui Ibn Abi Dunya dengan sanadnya dari Abdillah bin Khuaibiq.
Ketika iblis bertemu dengan Nabi Yahya a.s, Nabi Yahya berkata,
"Hai iblis, kabarkanlah kepadaku manusia yang paling kamu senangi dan yang paling kamu benci."
Iblis tidak dapat melarikan diri dari pertanyaan itu, hingga dijawabnya dengan jujur.
"Manusia yang paling aku senangi adalah seorang mukmin yang bakhil dan manusia yang paling aku benci adalah mereka yang dermawan," jawab iblis.
"Kenapa begitu, katakanlah wahai iblis," ujar Nabi Yahya a.s.
"karena orang yang bakhil itu, bakhilnya mencukupi kepadaku (menyesatkan manusia), dan orang yang dermawan itu, aku khawatir Allah memperlihatkan kedermawanannya lantas menerimanya," jawab iblis.
"Andai bukan karena engkau Wahai nabi Yahya kekasih Allah, aku tidak akan mengabarkannya," ujar iblis lebih lanjut.
Setelah itu, iblis pergi dari hadapan Nabi Yahya a.s.
Pada kesempatan itu, Iblis menguraikan tentang 3 golongan keturuanan Nabi Adam a.s serta trik-triknya dalam menjerusmuskan manusia.
Adalah Abdullah bin Muhammad bin Ubad telah meriwayatkan dengan isnadnya dari Wuhaib bin Ward dalam kitab Aakamul Marjan.
Abdulah berkata, suatu saat Iblis menampakkan diri kepada Nabi Yahya a.s.
Kisahnya.
Dalam kesempatan itu, Iblis membagi anak turun Nabi Adam a.s menjadi 3 golongan.
"Sungguh aku akan menasehatimu," ujar iblis.
"Bohong, engkau laknatullah, engkau tidak akan menasehatiku, tetapi kabarkanlah kepadaku tentang anak cucu Nabi Adam a.s," ucap Nabi Yahya a.s.
"Wahai kekasih Allah, sesungguhnya anak cucu Adam itu ada tiga golongan," ujar iblis yang terlihat dengan sungguh-sungguh.
"Ceritakanlah kepadaku," tutur Nabi Yahya a.s lagi.
Menunda Bertobat.
Kemudian iblis bercerita, bahwa golongan pertama adalah golongan umat yang melonggarkan waktu untuk beristighfar dan bertobat. Golongan tersebut adalah golongan yang paling berat dan paling sulit dipengaruhi oleh iblis.
"Kami telah betul-betul berusaha sekuat tenaga untuk menggodanya, tetapi mereka merusak segala upaya kami dengan beristighfar dan bertobat. Kami menguiangi lagi, tetapi mereka juga mengulangi istighfar dan betobat. Kami tidak putus asa, tetapi tidak mendapatkan tujuan kami padahal telah bersusah payah," ujar iblis.
"Kemudian bagaimana dengan golongan yang kedua," tanya Nabi Yahya a.s.
Iblis kemudian menjelaskan bahwa golongan anak cucu Adam yang kedua adalah orang yang lalai atas perintah Allah SWT.
"Mereka itu di tangan-tangan kami seperti bola yang ada di tangan anak-anak kalian, kami menyambar dengan cepat sekehendak kami, sungguh kami telah menguasai mereka," jawab Iblis.
Kemudian bagaimana dengan golongan yang ketiga," tanya Nabi Yahya a.s lagi.
"Golongan yang ketiga itu adalah orang-orang yang sepertimu, yang terjaga dari kesalahan (maksum), kami tidak berkuasa sama sekali atas orang-orang yang memiliki kelebihan seperti dirimu," jawab iblis.
"Apakah engkau benar-benar tidak kuasa atas diriku?" tanya Nabi Yahya a.s.
"Tidak, kecuali satu kali saja, yaitu pada saat kamu mendatangi makanan dan memakannya, kami tak henti-hentinya menyenangkan kamu makan melebihi batas dan diluar kebutuhan, maka malam itu engkau tidur nyenyak dan tidak shalat malam seperti biasanya," jawab iblis.
Orang yang paling disenangi dan dibenci Iblis.
"Tak diragukan lagi iblis, aku tidak akan makan kenyang karena makanan selamanya," ucap Nabi Yahya a.s.
"Sudah tentu, aku tidak akan menasehati anak cucu Adam sesudahmu," ujar iblis balik.
Dalam riwayat lain, dalam kitab Aakamul Marjan juga dijelaskan melalui Ibn Abi Dunya dengan sanadnya dari Abdillah bin Khuaibiq.
Ketika iblis bertemu dengan Nabi Yahya a.s, Nabi Yahya berkata,
"Hai iblis, kabarkanlah kepadaku manusia yang paling kamu senangi dan yang paling kamu benci."
Iblis tidak dapat melarikan diri dari pertanyaan itu, hingga dijawabnya dengan jujur.
"Manusia yang paling aku senangi adalah seorang mukmin yang bakhil dan manusia yang paling aku benci adalah mereka yang dermawan," jawab iblis.
"Kenapa begitu, katakanlah wahai iblis," ujar Nabi Yahya a.s.
"karena orang yang bakhil itu, bakhilnya mencukupi kepadaku (menyesatkan manusia), dan orang yang dermawan itu, aku khawatir Allah memperlihatkan kedermawanannya lantas menerimanya," jawab iblis.
"Andai bukan karena engkau Wahai nabi Yahya kekasih Allah, aku tidak akan mengabarkannya," ujar iblis lebih lanjut.
Setelah itu, iblis pergi dari hadapan Nabi Yahya a.s.
Langganan:
Postingan (Atom)



