Jumat, 02 Desember 2011

Hasutan Iblis terhadap Penguasa

Assalamu'alaikum para pembaca Kisah-Kisah Islamiah yang budiman.
Pada pagi hari ini Blog Kisah Islami ini akan menceritakan tentang sepak terjang iblis yang menggoda para penguasa agar terjerumus ke dalam kemaksiatan.

Seorang penguasa memiliki tanggung jawab yang besar terhadap rakyat dan amanahnya. Karena itulah iblis senantiasa menghasut penguasa agar para rakyatnya ikut tersesat. Alangkah senangnya iblis bila rakyat dari penguasa itu banyak jumlahnya dan tersesat karena pemimpinnya.
Salah satu yang menjadi senjata andalan iblis adalah menanamkan sifat sombong atau takabur.

Menurut riwayat, dari sifat sombong inilah iblis juga telah berhasil membuat Raja Fir'aun tersesat dan mengakui sebagai Tuhan, karena dia tidak pernah miskin, tidak pernah sakit sedkitpun sepanjang hidupnya, serta berumur panjang. Hingga rakyat disuruh menyembahnya.
Begitu juga dengan kisah berikut.
Kisahnya.
Pada suatu masa, ada seorang raja muda yang menguasai sebuah kerajaan, akan tetapi ia tidak pernah merasakan ketenangan dan kenyamanan.
Lalu ia bertanya kepada para bawahannya tentang ketidaknyamanannya itu.

"Apakah semua manusia seperti keadaanku sekarang ini atau tidak?" tanya raja.
"Tidak wahai Baginda, sesungguhnya semua manusia itu istiqamah dan tenang," kata bawahannya.
Sang raja kemudian ingin mengetahui alasannya.
"Apakah ada sesuatu yang bisa membuatku istiqamah dan tenang?" tanya sang raja.
"Ada, yaitu para ulama," jawab mereka.

Kemudian raja memanggil para ulama terkenal dan orang soleh di negerinya.
Raja menguindangnya ke istana untuk memberikan pencerahan kepadanya.
"Duduklah kalian di sisiku, apa saja yang kalian lihat padaku berupa ketaatan, maka perintahlah aku. Sebaliknya, apa saja yang kalian lihat padaku berupa kemaksiatan, maka cegahlah aku," ujar sang raja kepada para ulama.

Bisikan Iblis.
Para ulama dan orang-orang shalih pun menjalankan titah rajanya.
Setelah mendapatkan penjelasan dari ulama itu, raja mulai merasa istiqamah dan tenang.

Raja tersebut akhirnya selama 400 tahun memimpin kerjaannya dengan perasaan penuh ketenangan. Namun, hal itu telah membuat iblist idak senang dengan kepimimpinan raja yang taat kepada Allah SWT. Kemudian si iblis ini menemui sang raja.
"Siapa kamu? tanya sang raja.
"Aku iblis," jawab iblis jujur.

Sesaat sang raja tercengang dengan pengakuan iblis itu. Namun tak lama kemudian si iblis bertanya kepada sang raja,
"Sekarang katakan padaku, siapa kamu?" kata si iblis.
"Aku adalah seorang laki-laki keturunan Nabi Adam as," jawab raja dengan bangganya.
"Tidak, kamu bohong, seandainya kamu keturunan Adam, tentu kamu sudah mati sebagaimana keturunan Adam lainnya yang telah mati. Kamu adalah Tuhan, maka suruhlah rakyatmu untuk menyembahmu," ujar si iblis dengan meniupkan kesombongan di hari sang raja.

Sang raja mulai goyah keimanannya, seharusnya sang raja segera kembali berpedoman pada ajaran para ulama yang mendampinginya, bukannya sifat sombong yang dikedepankan terlebih dahulu. Harusnya bisa mencerna, apakah benar ucapan iblis yang demikian itu.
Raja Menjadi Sombong.

Kata-kata iblis itu rupanya telah merasuki jiwa sang raja, sehingga pada suatu saat naiklah sang raja ke atas mimbar di hadapan rakyatnya yang banya.
"Wahai manusia, sesungguhnya aku telah menyembunikan suatu perkara dari kalian, dan sekarang tibalah saatnya aku memperlihatkannya. Kamu sekalain tahu bahwa aku telah menjadi raja selama 400 tahun, seandainya aku ini memang seorang manusia tentu aku sudah mati seperti yang lainnya. Jadi, sebenarnya aku ini adalah Tuhan.
Oleh karena itu, hendaklah kalian menyembahku," ujar sang raja.

Atas kejadian itu, Allah SWT mewahyukan kepada Nabi pada zamannya untuk menegur si raja yang telah takabut itu.
"Katakanlah padanya, bahwa Aku selalu istiqamah (konsisten) memenuhi keinginannya selama ia istiqamah mengabdi kepada-Ku. Apabila ia berpaling dan mendurhakai Aku, amka demi Kemuliaan dan Keagungan-Ku, Aku akan menghancurkannya."

Demikianlah, akhirnya kaisar Bakhtashar telah menaklukkan raja yang ingin menjadi Tuhan tersebut dan menbus lehernya. Dia pun memperoleh rampasan emas sebanyak 70 kapal dari gudang kekayaan si raja sombong.
Wallahhu A'lam.

Rabu, 30 November 2011

Pemalas Tobat berkat Sepucuk Surat

Kisah islamiah pada dini hari ini tentang kisah tobat.
Suatu saat, Imam Abu Hanifah mendengar suara rintihan seorang pria. Karena merasa iba, Abu Hanifah berniat membantu, namun ternyata yang ia bantu adalah pria pemalas.
Akhirnya ia mengiriminya sepucuk surat agar pria tersebut tidak lagi malas.
Kisahnya.
Di sebuah desa di tanah Arab, ada salah satu keluarga yang hidupnya serba kekurangan. Kepala keluarga ini sebut saja namanya Abbad.
Ia mempunyai seorang istri dan 2 anak yang masih kecil. Abbad di desanya terkenal sebagai orang yang malas bekerja. Untuk menyambung hidup, tidak jarang istrinya diperintahkan untuk mencari uang.

Pada suatu hari, Imam Abu Hanifah sedang berjalan-jalan untuk melakukan perjalanan jauh sambil berdakwah.
Ketika sampai di depan rumah Abbad, Imam Abu Hanifah mendengar suara orang yang mengeluh dan menangis tersedu-sedu. Dan kebetulan kala itu Abbad sedang mengadu dengan suara agak keras.

"Alangkah malangnya nasibku ini, agaknya tiada seorang pun yang lebih malang dari nasibku ini. Sejak dari pagi aku dan keluargaku belum makan, sehingga seluruh badanku menjadi lemah. Mudah-mudahan saja ada orang yang mendengar rintihanku dan memberi sedekah," keluh Abbad.

Imam Abu Hanifah pun tersentuh dengan rinihan itu. Ia memutuskan pulang kembali ke rumah.
Abu Hanifah mengambil uang, maknan serta selembar surat lantas membungkusnya dengan kertas. Bungkusan itu hendak diberikan kepada Abbad.
Setelah sampai di rumah orang fakir miskin itu, Abu Hanifah langsung melemparkan bungkusan yang dibawanya.
"Mudah-mudahan dengan bantuan ini, dia sudah tidak menderita lagi," ujar Abu Hanifah dengan suara pelan.

Sepucuk Surat.
Setelah dekat dengan jendela rumah Abbad, bungkusan dilempar, kemudian Abu Hanifah meneruskan perjalanan.
Mendapat bungkusan secara tiba-tiba itu, tentu saja membuat Abbad terkejut. Setelah dibuka, ternyata bungkusan itu berisi uang, makanan serta secarik kertas.
Kertas itu bertuliskan,
"Wahai manusia, seungguh tidak wajar kamu mengeluh sedemikian itu. Kamu tidak perlu mengelukan nasibmu. Inghatlah kepada kemurahan Allah, dan cobalah bermohon kepada-Nya dengan bersungguh-sungguh. Jangan suka berputus asa, wahai kawan, tetapi berusahalah terus."

Beberapa hari kemudian, Imam Abu Hanifah ingin meneruskan perjalanan lagi sambil berdakwah. Untuk itulah dia ingin berjalan melewati rumah Abbad.
Abu Hanifah berfikir, siapa tahu setelah diberi tulkisan itu Abbad akan sadar. Akan tetapi harapan Imam Abu Hanifah ternyata gagal, karena ia masih mendengar suara keluhan itu lagi dari dalam rumah Abbad.

"Astaghfirullah...orang ini ternyata tidak mau sadar juga dengan tulisan yang saya berikan," tutur Abu Hanifah dalam hati.
Imam Abu Hanifah berhenti lagi, lalu mendengar suara rintahan lagi dari Abbad,
"Ya Allah, ya Tuhan Yanga Maha Belas Kasih dan Pemurah, sudilah kiranya memberikan bungkusan lain seperti kemarin, sekedar untuk menyenangkan hidupku yang melarat ini. Sungguh jika Allah tidak memberi akan lebih sengsaralah hidupku."

Mendengar keluhan itu lagi, Imam Abu Hanifah tidak melanjutkan perjalanan. Ia kembali pulang ke rumahnya kemudian ia membuat bungkusan seperti yang pertama, ada uang, makanan dan surat untuk diberikan kepada Abbad.
Setelah dekat dengan jendela rumah Abbad, Imam Abu Hanifah melempar bungkusan lagi, kemudian Abu Hanifah melanjutkan perjalanannya.

Mulai Mencari Pekerjaan.
Mendapat bungkusan lagi, Abbad senang bukan kepalang. Lantas bungkusan itu dibukanya dan seperti yang pertama, tetap ada secarik kertas. Surat itu dibacanya,
"Wahai kawan, bukan begitu caramu memohon. Bukan demikian cara berikhtiar dan berusaha, perbuatan demikian namanya malas. Putus asa kepada kebenaran dan kekuasaan Allah.
Sungguh Allah tidak ridha melihat orang yang pemalas dan putus asa, tidak mau bekerja untuk keselamatan dirinya."

Abbad berhenti sejenak membaca surat itu sambil merenungi isi suratnya.
Kemudian ia membacanya lagi.
"Kawan, jangan berbuat demikian.Hendaknya kamu bekerja yang halal meski gajinya sedikit. Dan bekerjalah dengan suka rela dan berusahalah jangan berdiam diri di rumah.
Rezeki Allah tidak bisa datang dengan sendirinya, tapi harus dicari. Orang hidup tidak disuruh untuk duduk diam saja, tetapi harus bekerja dan berusaha. Allah tidak akan memperkenankan permohonan orang yang malas bekerja."

Abbad berhenti lagi sejenak dan berfikir tentang isi surat itu. Ia mengambil nafas lalu meneruskan membaca surat itu.
"Allah tidak akan mengabulkan doa orang yang berputus asa. Oleh sebab itu, carilah pekerjaan yang halal untuk kesenagan dirimu. Berikhtiarlah dengan segera. Insya Allah, akan dapat juga pekerjaan itu selama kamu tidak berputus as. Carilah segera pekerjaan, saya doakan semoga lekas berjaya."

Setelah membaca surat itu, Abbad termenung, sesaat kemudian dia insyaf dan sadar akan perbuatannya selama ini.
Pada keesokan harinya dia pun keluar rumah untuk mencari pekerjaan.

Sejak dari hari itu, sikapnya pun berubah total, dia mengikuti sunnah Allah dan ia tidak pernah melupakan nasehat dari surat yang ia baca.
Tak berapa lama kemudian ia sudah mendapat pekerjaan meski gajinya hanya sedikit. Ia mulai giat bekerja untuk menghidupi keluarganya.

Kisah ini juga merupakan salah satu karomah yang sangat luar bias yang dimiliki oleh Imam Abu Hanifah.
Bagaimana tidak, beliau memberi nasehat hanya dengan secarik kertas, beliau tidak bertatap muka dengan Abbad, namun orang yang diberi nasehat akhirnya mengikuti dan akhirnya dia menjalankan sunnah Allah untuk tidak malas dan tidak berputus asa.
Bagaimana mungkin itu bisa terjadi, hanya Allah SWT sajalah Yang Maha Tahu.

Selasa, 29 November 2011

Satu Kota Musnah Tersapu Angin Topan

Kisah Islamiah pada sore ini tentang suatu umat yang hidup di sebuah kota telah tersapu angin hingga semuanya tewas. Kaum yang hidup di kota itulah yang bernama kaum Aad.

Meskipun sudah diajak beriman kepada Allah SWT oleh Nabi Hud as, namun tetap saja mereka menyembah patung. Nauzubillah..
Hanya gara-gara menyembah patung, mereka dimusnahkan dengan angin topan selama seminggu.


Kisahnya.
Kisah kaum pemuja patung yang kemudian mati akibat diterjang badai topan, terjadi pada kaum Aad pada zaman Nabi Hud as.
Peristiwa itu telah dijelaskan dalam Al Qur'an Surat Al-Haqqah ayat 6-7.

Allah SWT berfirman,


وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ
سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَى كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ

Artinya:
Adapun kaum 'Aad Maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi Amat kencang.
Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; Maka kamu Lihat kaum 'Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).

Tempat Tinggal Kaum Aad.
Kaum Aad tinggal di daerah pegunungan Al-Ahqaf, daerah di antara Yaman dan Yordania sampai Hadramuat dan Asy Syajar. Nenek moyangnya merupakan pengikut Nabi Nuh as yang selamat dari bajir besar. Mereka rata-rata berperawakan tinggi besar dan kekar.
Selain itu, umur mereka juga panjang.

Kaum Aad diketahui memiliki peradaban yang maju. Mereka mahir memahat, membuat rumah dan gedung yang megah.
Mereka juga pandai bercocok tanam, jadi tak heran jika pertanian dan perkebunan yang mereka kelola selalu menghasilkan panen yang banyak.

Kaum yang Sombong.
Namun, kemakmuran dan kesejahteraan itu rupanya menjauhkan mereka dari Allah SWT. Mereka sombong dan membuat patung untuk disembah sendiri. Berhala-berhala yang mereka buat dinamakan dengan Shada, Shamud dan Alhaba.

Kaum Aad percaya bahwa segala kekayaan, kemakmuran dan kejayaan mereka merupakan pemberian berhala-berhala itu. Oleh karena itu, Allah SWT mengutus Nabi Hud as untuk menyadarkan kaum Aad.
Tugas pokok Nabi Hud as adalah mengajak kembali kaum Aad untuk menyembah Allah SWT.

Namun ternyata ajakan Nabi Hud as tidak direspon oleh kaum Aad. Bahkan Nabi Hud dihina dan dianggapnya gila.
"Wahai Hud, janganlah engkau mengusik ketenangan kami. Kami tidak butuh Tuhammu," caci seorang tokoh dari kaum Aad.
"Sesungguhnya aku mengajak kalian ke jalan yang benar, tinggalkanlah patung-patung itu, sebab ia tidak bisa melakukan apa-apa," ujar Nabi Hud as.
"Semua kejayaan negeri ini datang dari berhala-berhala itu, kami tidak percaya lagi ajakanmu," jawab tokoh tersebut.

Pertentangan kaum Aad terhadap dakwah Nabi Hud as akhirnya memuncak.
Kaum Aad menantang datangnya azab kepada mereka.
"Buktikan ucapanmu, berikan azab kepada kami jika engkau benar-benar utusan Allah," ujar tokoh kaum Aad.

Nabi Hud kemudian berdoa, memohon kepada AllahSWT agar menurunkan azab-Nya.
Akhirnya azab Allah datang berupa musim kemarau yang berkepanjangan selama tiga tahun. Azab itu membuat tanaman-tanaman mati akrena tidak ada air dan hewan ternak juga mati kehausan.

Mendapat azab itu, ternyata kaum Aad tidak juga bertaubat.
Mereka malah semakin gencar berdoa kepada berhala buatan mereka sendiri untuk segera diturunkan hujan. Mereka menganggap bahwa kemarau itu datangnya karena kemurkaan berhala-berhala itu.

"Kemarau ini datangnya dari Allah SWT, bukan dari patung yang buta dan tuli itu," ujar Nabi Hud as.

Azab Allah SWT Datang.
Namun pernyataan dan ajakan Nabi Hud as makin membuat marah kaum Aad. Terlebih mereka mengancam akan membunuh Nabi Hud as jika tidak emnghentikan dakwahnya.
"Jika engkau tidak menghentikan kelakuanmu, kami akan membunuhmu," gertak seorang kaum Aad yang lain.

Mendapati kekerasan hati kaum Aad, Nabi Hud as meminta petunjuk kepada Allah SWT. Allah SWT lantas memerintahkan Nabi Hud as dan beberapa pengikutnya untuk meninggalkan daerah Al-Ahqaf karena azab-Nya yang sangat pedih akan segera turun.

Perintah Allah tersebut dipatuhi oleh Nabi Hud as dan pengikutnya. Setelah itu, mendadak saja muncul awan hitam yang menyelimuti langit Al-Ahqaf. Keadaan itu malah membuat sukacita. Mereka mengira bahwa berhala-berhala yang mereka sembah itu telah mengabuilkan doa mereka. Mereka mengira bahwa dengan kepergian Nabi Hud as semakin membuat negerinya berjaya.

Kaum Aad pun kemudian pergi ke luar rumah untuk menyambut kedatangan hujan yang mereka nantikan. Mereka menari-nari dan memuja berhala sebagai simbol kegembiraannya.

Namun yang terjadi malah membuat kaget mereka.
Bukannya huja yang turun, namun angin topan yang teramat dingin. Angin topan itu terus berhembus dan menerjang segala sesuatu yang ada di kota tersebut selama 7 hari 8 malam.
Angin topan itu telah memporak-porandakan perkampungan Aad hingga kaum Aad pun hancur dan binasa.
Tak ada seorang pun yang selamat diantara mereka.

Itulah kisah azab yang diterima kaum Aad pada masa Nabi Hud as.
Kaum Aad meminta agar diberi azab, berkat doa Nabiyullah Hud as, akhirnya Allah SWT mengabulkan doanya hingga binasalah kaum penyembah berhala itu.

Sabtu, 26 November 2011

Pembunuhan Terhadap Nabi Yahya

Kisah Islamiah malam ini tentang pembunuhan Nabi Yahya as oleh Seorang Raja yang bengis dan kejam. Awal mulanya Nabi Yahya disuruh untuk membenarkan yang bathil, namun Nabi Yahya as bersikukuh menolak hingga dibunuhlah Nabi Yahya as yang mulia ini.

Nabi Yahya as menolak dengan keras rencana pernikahan Raja Herodus dengan ank kandungnya. Karena pernikahan yang seperti itu dilarang dalam hukum Allah SWT.

Kisahnya.
Dakwah yang dilakukan oleh Nabi Yahya as tidak setengah-setengah. Ia tetap konsisten mengatakan yang benar itu benar dan yang salah tetaplah salah, seperti penolakannya terhadap rencana pernikahan Raja Herodus dengan putri kandungnya sendiri yang bernama Hirodia.

Pendapatnya tetap kuat meski yang dihadapinya adalah seorang raja.
"Pernikahan itu tidak akan saya akui, malah saya akan tetap menentangnya sampai kapanpun," ucap Nabi Yahya as kepada masyarakat yang menunggu keputusannya.
"Baiklah, kami juga tidak akan membenarkan pernikahan itu," ujar masyarakat kepada Nabi Yahya as.

Pada saat itu, memang Nabi Yahya as telah menjadi panutan masyarakat. Apapun yang diucapkannya senantiasa diikuti, begitu pula sesuatu yang dilarang juga akan dipatuhi.
Alasan Nabi Yahya as melarang pernikahan itu sangalah kuat, yaitu karena Hirodia merupakan anak kandung dari Raja Hirodus itu sendiri. Pernikahan seperti itu sangatlah dilarang oelh Allah SWT.

Hirodia Merayu Nabi Yahya as.
Hirodia memang tengah menjadi buah bibir setiap pemuda Palestina. Kecantikannya seperti bulan purnama, matanya jernih laksana bintang kejora, tubuhnya ramping dan seksi dengan rambut hitam yang panjang semakin menambah cantik wajahnya.

Pada akhirnya, kabar penolakan Nabi Yahya as terhadap rencana pernikahna itu sampai juga ke telinga Hirodia. Ia sangat terkejut sekaligus takut bila renca menjadi permaisuri tidak menjadi kenyataan. Karenanya, ia membuat siasat untuk merayu Nabi Yahya as dengan modal kecantikannya.

Setelah berhias secantik mungkin, Hirodia menyelinap masuk ke kamar Nabi Yahya as.
"Wahai Yahya, tidak tertarikkah engkau kepada tubuhku ini?" rayu Hirodia sambil memperlihatkan tubuhnya.
"Hirodia, tutuplah tubuhmu, ketahuilah bahwa orang-orang yang melakukan mesum akan disiksa di hari kiamat dan berbau lebih busuk dari bau bangkai," tolak Nabi Yahya as pada ajakan Hirodia untuk berbuat mesum.

Mendengar jawaban Nabi Yahya as yang demikian, Hirodia menjadi sangat jengkel. Ia lantas meminta kepada Herodus agar membunuh Nabi Yahya as.
"Sekiranya engaku benar-benar cinta kepadaku, aku ingin bukti darimu," ucap Hirodia kepada Raja Herodus.
"Bukti apa yang engkau inginkan?" tanya Raja Herodus.
"Aku ingin engkau membunuh Nabi Yahya as agar tidak ada lagi orang yang menentang rencana pernikahan kita," jelas Hirodia.


Nabi Yahya as Rela Dibunuh Demi Kebenaran dan Takut Azab Allah SWT.
Raja Herodus yang terkenal dengan kekejamannya itu langsung menyanggupi permintaan calon permaisurinya. Dengan segera ia menyuruh para prajuritnya untuk menangkap Nabi Yahya as.

Setelah tertangkap, Nabi Yahya as dimasukkan ke dalam penjara.
"Wahai Yahya, jelaskan mengapa engkau melarang rencana pernikahan kami?" tanya Raja Herodus.
"Ketahuilah bahwa Allah SWT melarang pernikahan antara ayah dan anak. Allah SWT juga melaknat siapa saja yang melakukan pernikahan seperti itu," jelas Nabi Yahya as.

"Kami tidak peduli, sekarang akuilah dan umumkanlah kepada rakyatku bahwa engkau merestui rencana pernikahan kami," ujar Raja Herodus.
"Demia Allah SWT, aku tidak akanmengatakan benar bila kenyataannya iitu salah," jawab Nabi Yahya as tidak gentar sedikitpun.
"Baiklah, kalau engkau tidak mau merestui, maka engkau akan aku bunuh," ancam Raja Herodus.
"Tidak ada sesuatu pun yang aku takuti kecuali azab Allah SWT," jawab Nabi Yahya as dengan tenangnya.

Nabi Yahya as tetap saja bersikukuh pada pendirian dan keutusannya. Ia rela dibunuh daripada ikut menanggung azab Allah SWT karena ikut membenarkan pernikahan yang terlarang itu.

Akhirnya, Raja Herodus menyuruh prajuritnya untuk membunuh Nabi Yahya as. Darah pun mengucur dengan derasnya mengiringi kematian Nabi Yahya as yang sangat disegani oleh rakyat Herodus itu. Beliau pun tewas dalam memegang syariat agama Allah SWT.

Dari kisah inilah, Allah SWT mengutuk kekejaman Raja Herodus yang telah membunuh Nabi Yahya as. Kutukan tersebut terdapat dalam ayat suci Al Qur'an Surat An-Nisaa ayat 93.
Allah SWT berfirman,

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

Artinya:
"Dan Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya."

Maha benar Allah SWT dengan segala Firman-Nya.

Kamis, 24 November 2011

Bayi Mati Hidup Lagi

Kisah islamiah sore ini tentang kisah seorang bayi yang mati, kemudian bisa hidup lagi.
Sungguh Allah SWT Maha Besar.
Seorang bayi yang bernama Samaa Zohir, hidup lagi setelah dibekukan oleh tim dokter.

Tanda-tanda kekuasaan Allah SWT baru-baru ini telah nampak di depan mata dimana seorang bayi yang menderita kelainan jantung harus dibekukan hingga tak ada tanda-tanda kehidupan lagi. Anehnya, setelah 20 menit berselang, bayi itu hidup lagi dan penyakit jantungnya telah teratasi dengan cara operasi.


Kisahnya.
Pada pertengahan bulan Oktober yang lalu, tim medis di London, Inggris berhasil menyelamatkan seorang bayi yang menderita kelainan jantung. Anehnya, dalam proses medis itu dilakukan dengan cara membekukan si bayi hingga detak jantung bayi itu berhenti serta aliran darah juga berhenti.

Bayi yang bernama Samaa Zohir tersebut dilahirkan dengan kelainan jantung. Pembuluh darh yang seharusnya membawa darah beroksigen dari paru-paru ke bagian kiri jantung, justru masuk ke jantung kanan.

Tanpa dioperasi, Samaa tak berumur panjang. Mau dioperasi juga sangat riskan, karena umur Salmaa baru saja sebulan. Jantungnya baru seukuran bola golf. Tim Medis di Rumah Sakit Great Ormond Street, London, Inggris berusaha dengan keras demi keberhasilan teknik medis yang tidak biasa tersebut.

Bayi Dibekukan.
Sebagai langkah awal, tim medis membungkus kepala Samaa dengan kantong es batu, lalu menurunkan suhu darah dari 37 derajat celcius menjadi 18 derajat cecius dengan menggunakan alat bypass jantung apru-paru.

Setelah suhu Samaa turun, dokter menyuntikkan cairan kimia untuk menghentikan kerja jantungnya, kemudian mematikan mesin bypass itu. Secara klinis, Samaa sudah mati dan darah sama sekali tidak mengalir dalam tubuhnya.

Tim dokter hanya memiliki waktu sekitar 50 menit saja dalam menjalankan teknik ini, kalau lebih dari itu, Samaa akan mengalami kerusakan otak dan organ tubuh. Dalam waktu 23 menit, tim dokter berhasil memindahkan pembuluh darah Samaa. Setelah itu, Samaa dihidupkan kembali dengan cara memompakan darah segar untuk menormalkan suhu darah menjadi 37 derajat celcius.

Teknik seperti ini dikembangkan dari kasus orang yang jatuh ke air es dan bertahan hidup selama 1 jam. Para pakar meyakini, suhu dingin melindungi otak dan organ vital.

Kehendak Allah SWT.
Akan dibutuhkan waktu sekitar 5 bulan agar Samaa bisa sembuh seperti sedia kala. Ibunya Samaa, Roosina Ahmed sangat terharu dengan selamatnya Samaa.

Pada awalnya, ibunya sangat takut mendengar paparan tim dokter tentang operasi anaknya itu. Namun, orang tua Samaa menyadari bahwa sangat penting buat Samaa untuk dioperasi agar bisa sembuh.

Kesembuhan bayi tersebut benar-benar merupakan kekuasaan Allah SWT.
Allah SWT berkuasa terhadap semua makhluknya. Jika Allah SWT menghendaki, tidak ada yang mustahil bagi-Nya.
Subhanalla..

Misteri 2 Jenazah Sunan Bonang

Kisah Islamiah pada sore ini tentang kisah walisanga. Punggawa Walisanga yang satu ini begitu banyak memiliki karomah sehingga membuat banyak warga Jawa yang tertarik dan mengikuti ajaran beliau.

Kisahnya.
Sunan Bonang sering berdakwah keliling hingga usia lanjut. Beliau meninggal dunia pada saat berdakwah di Pulau Bawean.
Berita meninggalnya Sunan Bonang ini segera tersebar ke seluruh tanah jawa. Para murid berdatangan dari segala penjuru untuk berduka cita dan memberikan penghormatan terakhir.


Pemberian Kain Kafan.
Murid-murid Sunan Bonang yang berada di Pulau Bawean hendak memakamkan jenazah beliau di Pulau Bawean, akan tetapi murid-murid yang berasal dari daerah Madura dan Surabaya menginginkan jenazah beliau dimakamkan di dekat ayahandanya, yaitu Sunan Ampel di Surabaya.

Dalam hal memberikan kain kafanpun mereka tak mau kalah begitu saja. Jenazah yang sudah dibungkus kain kafan milik orang Bawean masih ditambah lagi dengan kain kafan dari Surabaya.

Pada malam harinya, orang-orang Madura dan Surabaya menggunakan ilmu sirep untuk membuat ngantuk orang-orang Bawean dan Tuban. Lalu mengangkat jenazah Sunan Bonang ke dalam kapal dan hendak dibawa ke Surabaya. Karena tindakan mereka tergesa-gesa, kain kafan jenazah itu tertinggal satu.

Kapal Tak Bisa Bergerak di Tuban..
Kapal layarpun segera bergerak ke arah Surabaya. Akan tetapi ketika berada di perairan Tuban, tiba-tiba saja kapal yang digunakan untuk mengangkut jenazah Sunan Bonang tidak bisa bergerak, sehingga terpaksa jenazah Sunan Bonang dimakamkam di Tuban yaitu di sebelah barat Masjid Jami Tuban.

Sementara itu, kain kafan yang tertinggal di Pulau Bawean ternyata juga ada jenazahnya. Orang-orang Bawean pun menguburkannya dengan penuh khidmat.

Dengan demikian, ada 2 jenazah Sunan Bonang.
Inilah Karomah yang diberikan Allah SWT kepada Sunan Bonang.
Subhanallah..

Sunan Bonang wafat pada tahun 1525.
Makam yang dianggap asli adalah yang berada di kota Tuban sehingga sampai sekarang pun makam itu banyak diziarahi orang dari segala penjuru tanah air.
Sungguh karomah yang sangat luar biasa. Jenazah diperebutkan orang banyak, makam pun banyak peziarahnya.

Meski sudah meninggal, namun jasa beliau tetap akan terkenang insya Alloh sepanjang zaman

Selasa, 22 November 2011

Tundukkan Singa dengan Tatapan Mata

Kisah islamiah pada sore ini tentang kisah karomah.
Adalah Abu Said Abul Khair yang dikenal sebagai seorang sufi yang sangat menjaga situasi hatinya agar tidak terbersit maksud buruk.
Karena kemuliaan hatinya itu, Abul Khair mendapatkan beberapa karomah dan salah satunya adalah mampu menundukkan singa padang pasir yang buas hanya dengan tatapan mata saja.


Kisahnya.
Suatu ketika, ada seorang sufi yang masih muda datang dengan maksud ingin berguru kepada Abu Said Abul Khair, seorang tokoh sufi yang terkenal karena karomahnya dan gemar mengajar tasawuf di pengajian-pengajian. Rumah guru sufi itu terletak di tengah-tengah padang pasir.
Ketika sufi muda itu tiba di rumahnya, Abul Khair sedang memimpin pengajian.

Pada waktu Abul Khair membaca Surat Al Fatehah, dan tiba pada ayat terakhir yang berbunyi,
"Ghairil Manghdubi 'Alaihim Wa Ladh Dhallin."
Saat itulah sufi muda ini agak kurang puas dengan makhraj bacaan Al Qur'an Abul Khair, yang dinilainya kurang fasih.

"Bagaimana mungkin ia seorang sufi terkenal, makhraj bacaan Al Fatehahnya saja tidak bagus, bagaimana mungkin aku bisa menjadi muridnya?" guman sufi muda itu yang berniat mengurungkan niatnya untuk berguru kepada Abul Khair.

Dikepung Singa Padang Pasir.
Setelah itu, sufi muda itu berniat keluar dari majelis dan pergi tanpa permisi. Namun, begitu sufi muda itu keluar, ia langsung dihadang oleh seekor singa padang pasir yang buas. Singa itu mengaum dengan kerasnya seperti hendak memangsa sufi muda tersebut.

Karena ketakutan, sufi muda itu memilih untuk mudur. Akan tetapi di belakangnya juga ada seekor singa padang pasir lain yang menghalanginya.

Sufi muda itu seperti terjebak di tengah-tengah tanpa bisa berbuat sesuatu. Akhirnya, sufi muda itu menjerit keras karena ketakutan.

Begitu mendengar teriakan dari luar, Abul Khair segera turun keluar meninggalkan majelisnya. Ia menatap kedua ekor singa padang pasir yang buas itu dengan tatapan yang tajam.
Sesaat kemudian, Abul Khair menegur singa-singa itu,
"Wahai singa, bukankah sudah aku bilang padamu jangan pernah kalian mengganggu para tamuku."

Sungguh ajaib, kedua singa yang semula terlihat buas itu lalu duduk bersimpuh di hadapan Abul Khair. Sang sufi Abul Khair lalu mengelus-elus telinga kedua singa itu dan menyuruhnya pergi.
Setelah kedua hewan buas itu benar-benar pergi, sufi muda itu merasa keheranan.

"Bagaimana Anda dapat menaklukkan singa-singa yang begitu liar itu?" tanya sufi muda.
"Anak muda, selama ini aku sibuk memperhatikan urusan hatiku. Bertahun-tahun aku berusaha menata hati hingga aku tidak sempat berprasangka buruk kepada orang lain. Untuk kesibukanku menaklukkan hatiku ini, Allah SWT telah menaklukkan seluruh alam semesta kepadaku. Semua binatang buas di sini termasuk singa padang pasir yang buas itu, semua tunduk kepadaku," jelas Abul Khair.

Menata Hati.
Sufi muda itu hanya terdiam dengan penuh rasa malu.
Namun, di sisi lain ia begitu mengagumi karomah yang dimiliki oleh Abul Khair.

"Engkau tahu kekuranganmu, wahai anak muda?" kata Abul Khair.
"Tidak wahai guru," jawab sufi muda itu.
"Selama ini engkau sibuk memperhatikan hal-hal lahiriah hingga nyaris lupa memperhatikan hatimu, karena itu engkau takut kepada semuruh alam semesta," jelas Abul Khair.

Sufi muda itu akhirnya mengurngkan niatnya untuk pergi. Dia menetapkan hatinya untuk menjadi murid dari Abul Khair.
Ia bersyukur bisa menjadi murid Abul Khair yang senantiasa mengajarinya tentang pentingnya menjaga hati agar selalu berprasangka baik.