Kisah islamiah siang deng kisah tobat.
Seorang ayah telah bertobat, menangis, dirangkul oleh anaknya.
Tersebut nama Ali bin Baswad, seorang penjahat yang paling ditakuti.
Kisahnya.
Pada suatu malam, ada seorang ibu mengeluh dan kesal karena anaknya terus menerus menangis. Karena sudah putus asa melihat anaknya rewel terus, ditakut-takutinya anak itu.
"Diam! Kalau engkau tak mau diam, akan aku panggilkan Ali bin Baswad kemari," gertak ibunya.
Seketika itu juga, anaknya diam dari tangisnya.
Sementara itu, secara kebetulan, Ali bin Baswad tengah lewat di depan rumah si ibu itu dan sekaligus mendengar gertakan ibu anak itu.
"Celakalah aku. Demikian terkenalnya aku sebagai penjahat, hingga namaku digunakan untuk menakut-nakuti anak kecil," guman Ali bin Baswad.
Sesaat setelah itu, tiba-tiba saja badan Ali bin Baswad gemetar, tubuhnya terasa lemas karena tersentuh perasaannya. Seketika, luruhlah hatinya dan ingin bertobat malam itu juga. Maka, dibuanglah goloknya dan diurungkan niatnya untuk melakukan pekerjahat jahatnya.
Segera bergegas dia pulang ke rumahnya.
Ketika Ali bin Baswad mengetuk pintu rumah, anaknya yang masih kecil menyahut dari dalam.
"Siapa itu di luar?" tanya anaknya.
"Aku, ayahmu," jawab Ali.
"Engkau bukan ayahku. Suara ayahku tak selembut itu," sahut anaknya.
"Memang anakku, yang datang sekarang bukanlah ayahmu yang keluar tadi sore. Bukalah pintunya, nak," pinta Ali.
Anak Ali kemudian membukakan pintu dan ia sangat terkejut ketika melihat ayahnya tengah menundukkan kepala dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Anak itu kemudian merangkul ayahnya.
"Ada apa ayah?" tanya anaknya.
"Anakku, besok ikatlah leher ayahmu ini kemudian tuntun dan araklah berkeliling kampung. Katakan pada teman-temanmu, bila ingin mengetahui penjahat yang banyak dosanya, katakan ayahmu inilah orangnya. Tapi malam ini, orang yang jahat ini telah insyaf dan bertobat," kata Ali bin Baswad sambil menangis dan menciumi pipi anaknya.
Karena merasa terharu, anak itu pun ikut menangis.
Ia gembira karena ayahnya sekarang telah insyaf dan menyesali segala perbuatannya.
"Engkau sekarang benar-benar ayahku," kata anak itu sambil menuntun ayahnya masuk ke dalam rumah.
(NB: Akulah ayahmu nak, jangan lupakan ayahmu ini ya meski jarang bertemu.
Terucap untuk belahan jiwaku di sana.)
Rabu, 28 Desember 2011
Jumat, 23 Desember 2011
Pemimpin yang Dijamin Masuk Surga
Kisah Islamiah sore dengan Kisah Sahabat, seorang pemimpin yang tidak mau digaji meskipun jabatannya tergolong tinggi di Madinah. Untuk memenuhi kesehariannya, beliau menjual keranjang yang dianyam dari daun kurma.
Penghasilan tiap harinya hanya 3 dirham saja, yang satu dirham untuk modal lagi besoknya, yang 1 dirham untuk nafkah keluarganya dan yang 1 dirham disedekahkan.
Subhanallah...
Beliaulah Salma Al Farisi, seorang sahabat rasululah SAW yang terpaksa menerima jabatan sebagai pemimpin Madinah.
Karena amanah dan kejujurannya, ia salah satu sahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah SAW.
Sebuah kisah yang menyentuh hati.
Kisahnya.
Pada suatu hari, usai shalat subuh berjamaah di sebuah masjid, Rasulullah SAW memanggil sahabat-sahabatnya yang ikut berjamaah shalat subuh.
Rasulullah SAW berpesan,
"Hendaklah bagian masing-masingmu dari kekayaan dunia ini seperti bekal seorang pengembara."
Mendengar Sabda Rasulullah SAW tersebut, Salma Al Farisi duduk termenung, memikirkan apa yang telah dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW. Salma berharap bisa memenuhi pesan itu sebaik-baiknya. namun, perasaannya masih saja khawatir kalau ia telah melampui batas yang telah ditetapkan.
Padahal kalau dipikir, di dalam rumah Salman tak ada satu pun barang berharga yang dimilikinya. Salman hanya memiliki sebuah piring tempat dia makan dan baskom untuk tempat minum dan wudhu.
Meskipun demikian, Salman menganggap bahwa dirinya telah berlaku boros. Ketika hendak mendirikan rumah saja, ia takut sekali bila bangunan rumahnya tergolong bagus.
Salman berkata kepada tukang batu yang membangun rumahnya.
"Tolong untuk membangun rumah saya jangan terlalu mewah, cukup yang sederhana saja," pesan Salman kepada tukang batunya.
Mencari Rezeki Halal.
Beberapa saat berlalu, akhirnya Salman Al farisi dipaksa harus menerima jabatan sebagai Amir atau Kepala Daerah di Madinah.
Ia menerima jabatan itu, namun ia menolak untuk menerima gajinya, meski hanya satu dirham sekalipun.
Meskipun Salam sudah menjadi seorang Amir, ia tak malu-malu menganyam daun kurma untuk dijadikan bakul atau keranjang, kemudian dijualnya. Dari pekerjaan itulah Salman mendapatkan nafkahnya.
Dengan memakai pakaian yang sangat sederhana, tidak lebih dari sehelai baju luar yang agak usang, hari-harinya disibukkan oleh kegiatannya.
Untuk bahan membuat keranjang, dibelinya satu dirham dan kemudian keranjang yang sudah jadi dijualnya 3 dirham. Yang satu dirham untuk modal, satu dirham lagi untuk nafkah keluarganya, sedangkan satu dirham sisanya untuk sedekah.
Pernah suatu ketika sahabatnya menanyakan tentang kegiatannya yang sederhana itu padahal bisa saja dia menerima upah yang tinggi dan hidupnya berkecukupan. Malah Salman Al Farisi berkata,
"Seandainya Umar bin Khattab pun melarangku berbuat demikian, aku tidak akan menghentikannya."
Begitulah salah satu watak sahabat Rasulullah SAW. Kepercayaan dan keimanannya sangat tinggi, hingga Sabda Rasul pun bisa dilakukan dengan baik.
Bertemu dengan orang Syria.
Pada suatu hari ketika Salman sedang berjalan di tengah keramaian, ia didatangi oleh seorang laki-laki Syria yang membawa sepikul buah Tin dan Kurma. Rupanya barang itu terlalu berat dan melelehkan jika dipikul terus.
Melihat ada seorang laki-laki yang tampak seperti orang biasa dan dari golongan orang yang tak mampu, maka orang syria itu bermaksud menyuruhnya mengangkat buah-buahan itu dengan diberi imbalan atas jerih payahnya bila telah sampai di tempat tujuan.
Orang Syria itu memberi isyarat agar Salman mendatanginya,
"Tolong bawakan barang-barangku ini," kata orang Syria.
Pemimpin Bijaksana.
Tanpa bicara, Salman langsung mengangkat barang itu, kemudian mereka berjalan bersama di tengah keramaian.
Di tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan sekelompok orang.
Salman memberi salam kepada mereka dan orang-orang itu berhenti sambil menjawab salamnya.
"Wa'alaikum Salam wahai Amir," kata orang-orang itu.
Mendengar jawaban salam dari orang-orang itu, orang Syria itu kaget sekaligus bingung, sebenarnya siapakah yang dipanggil dengan Amir itu.
Rasa heran kian bertambah kala berpapasan dengan sekelompok orang lagi.
"Berikan kepada kami, Wahai Amir," kata salah seorang dari mereka.
Sekarang baru tahulah orang Syria itu, bahwa yang disuruh mengangkat barangnya itu adalah Salman Al Farisi, Amir Kota Madinah.
Orang Syria itu gugup, kata-kata penyesalan dan maaf segera terlontar dari mulutnya berkali-kali. Dengan sigapnya, orang Syria itu akan mengambil barang yang dibawa Amir Madinah itu.
Namun, Salman menolaknya dengan halus.
"Tidak, sebelum aku antarkan sampai ke tujuannya," kata Salman sambil menggelengkan kepala.
Itulah Salama Al Farisi, salah seorang sahabat Rasululah SAW yang kehidupannya sangat bersahaja. tak lebih dari satu dirham setiap harinya yang diperoleh dari jerih payahnya sendiri. Dia tidak mau menerima tunjangan dari jabatan yang telah dia emban.
Akan tetapi dia lebih senang mencari nafkah sendiri dengan cara yang halal dari hasil kedua tangannya. Demikian jujur dan adilnya dalam melaksanakan amanah, akhirnya Salman Al Farisi menjadi salah satu sahabat nabi Muhammad SAW yang dijamin masuk surga.
Bagaimanakah dengan pemimpin negeri ini?
Seperti Salman Al Farisi kah?
Penghasilan tiap harinya hanya 3 dirham saja, yang satu dirham untuk modal lagi besoknya, yang 1 dirham untuk nafkah keluarganya dan yang 1 dirham disedekahkan.
Subhanallah...
Beliaulah Salma Al Farisi, seorang sahabat rasululah SAW yang terpaksa menerima jabatan sebagai pemimpin Madinah.
Karena amanah dan kejujurannya, ia salah satu sahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah SAW.
Sebuah kisah yang menyentuh hati.
Kisahnya.
Pada suatu hari, usai shalat subuh berjamaah di sebuah masjid, Rasulullah SAW memanggil sahabat-sahabatnya yang ikut berjamaah shalat subuh.
Rasulullah SAW berpesan,
"Hendaklah bagian masing-masingmu dari kekayaan dunia ini seperti bekal seorang pengembara."
Mendengar Sabda Rasulullah SAW tersebut, Salma Al Farisi duduk termenung, memikirkan apa yang telah dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW. Salma berharap bisa memenuhi pesan itu sebaik-baiknya. namun, perasaannya masih saja khawatir kalau ia telah melampui batas yang telah ditetapkan.
Padahal kalau dipikir, di dalam rumah Salman tak ada satu pun barang berharga yang dimilikinya. Salman hanya memiliki sebuah piring tempat dia makan dan baskom untuk tempat minum dan wudhu.
Meskipun demikian, Salman menganggap bahwa dirinya telah berlaku boros. Ketika hendak mendirikan rumah saja, ia takut sekali bila bangunan rumahnya tergolong bagus.
Salman berkata kepada tukang batu yang membangun rumahnya.
"Tolong untuk membangun rumah saya jangan terlalu mewah, cukup yang sederhana saja," pesan Salman kepada tukang batunya.
Mencari Rezeki Halal.
Beberapa saat berlalu, akhirnya Salman Al farisi dipaksa harus menerima jabatan sebagai Amir atau Kepala Daerah di Madinah.
Ia menerima jabatan itu, namun ia menolak untuk menerima gajinya, meski hanya satu dirham sekalipun.
Meskipun Salam sudah menjadi seorang Amir, ia tak malu-malu menganyam daun kurma untuk dijadikan bakul atau keranjang, kemudian dijualnya. Dari pekerjaan itulah Salman mendapatkan nafkahnya.
Dengan memakai pakaian yang sangat sederhana, tidak lebih dari sehelai baju luar yang agak usang, hari-harinya disibukkan oleh kegiatannya.
Untuk bahan membuat keranjang, dibelinya satu dirham dan kemudian keranjang yang sudah jadi dijualnya 3 dirham. Yang satu dirham untuk modal, satu dirham lagi untuk nafkah keluarganya, sedangkan satu dirham sisanya untuk sedekah.
Pernah suatu ketika sahabatnya menanyakan tentang kegiatannya yang sederhana itu padahal bisa saja dia menerima upah yang tinggi dan hidupnya berkecukupan. Malah Salman Al Farisi berkata,
"Seandainya Umar bin Khattab pun melarangku berbuat demikian, aku tidak akan menghentikannya."
Begitulah salah satu watak sahabat Rasulullah SAW. Kepercayaan dan keimanannya sangat tinggi, hingga Sabda Rasul pun bisa dilakukan dengan baik.
Bertemu dengan orang Syria.
Pada suatu hari ketika Salman sedang berjalan di tengah keramaian, ia didatangi oleh seorang laki-laki Syria yang membawa sepikul buah Tin dan Kurma. Rupanya barang itu terlalu berat dan melelehkan jika dipikul terus.
Melihat ada seorang laki-laki yang tampak seperti orang biasa dan dari golongan orang yang tak mampu, maka orang syria itu bermaksud menyuruhnya mengangkat buah-buahan itu dengan diberi imbalan atas jerih payahnya bila telah sampai di tempat tujuan.
Orang Syria itu memberi isyarat agar Salman mendatanginya,
"Tolong bawakan barang-barangku ini," kata orang Syria.
Pemimpin Bijaksana.
Tanpa bicara, Salman langsung mengangkat barang itu, kemudian mereka berjalan bersama di tengah keramaian.
Di tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan sekelompok orang.
Salman memberi salam kepada mereka dan orang-orang itu berhenti sambil menjawab salamnya.
"Wa'alaikum Salam wahai Amir," kata orang-orang itu.
Mendengar jawaban salam dari orang-orang itu, orang Syria itu kaget sekaligus bingung, sebenarnya siapakah yang dipanggil dengan Amir itu.
Rasa heran kian bertambah kala berpapasan dengan sekelompok orang lagi.
"Berikan kepada kami, Wahai Amir," kata salah seorang dari mereka.
Sekarang baru tahulah orang Syria itu, bahwa yang disuruh mengangkat barangnya itu adalah Salman Al Farisi, Amir Kota Madinah.
Orang Syria itu gugup, kata-kata penyesalan dan maaf segera terlontar dari mulutnya berkali-kali. Dengan sigapnya, orang Syria itu akan mengambil barang yang dibawa Amir Madinah itu.
Namun, Salman menolaknya dengan halus.
"Tidak, sebelum aku antarkan sampai ke tujuannya," kata Salman sambil menggelengkan kepala.
Itulah Salama Al Farisi, salah seorang sahabat Rasululah SAW yang kehidupannya sangat bersahaja. tak lebih dari satu dirham setiap harinya yang diperoleh dari jerih payahnya sendiri. Dia tidak mau menerima tunjangan dari jabatan yang telah dia emban.
Akan tetapi dia lebih senang mencari nafkah sendiri dengan cara yang halal dari hasil kedua tangannya. Demikian jujur dan adilnya dalam melaksanakan amanah, akhirnya Salman Al Farisi menjadi salah satu sahabat nabi Muhammad SAW yang dijamin masuk surga.
Bagaimanakah dengan pemimpin negeri ini?
Seperti Salman Al Farisi kah?
Kamis, 22 Desember 2011
Anak Jadi Nabi Berkat Doa Ayah
Kisah Islamiah sore dengan kisah kisah Nabi.
Karena telah menjadi seorang anak yang berbakti, maka seorang ayah mendoakan anaknya tersebut agar dikarunia banyak keturunan yang menjadi Nabi nantinya.
Doa yang tulus tersebut dikabulkan oleh Allah SWT.
Sebelumnya mari kita lihat ayat suci Al Qur'an berikut ini, Surat Maryam ayat 49.
فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَكُلا جَعَلْنَا نَبِيًّا
Artinya:
"Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya'qub. dan masing-masingnya Kami angkat menjadi Nabi."
(QS. Maryam: 49).
Kisahnya.
Kisah ini terjadi pada zaman Nabi Ishaq as, yang merupakan keturunan dari nabi Ibrahim. Dan banyak yang bilang bahwa abi Ibrahim as adalah bapaknya para Nabi. Kenapa bisa begitu kita ikuti kisahnya.
Nabi ishaq memiliki 2 orang anak yaitu Ish dan Ya'qub.
Ish sehari-hari mengurus keperluan Nabi Ishaq ketika ia telah berusia tua dan penglihatannya tidak baik lagi. Dialah yang menyiapkan segala keerluan ayahnya sehari-hari.
Entah kenapa pada suatu hari, bukan Ish yang disuruh ibunya, Rifqah, untuk meyiapkan hidangan ke ayahnya, namun justru Ya'qub. Mungkin sudah menjadi kehendak Allah SWT.
Padahal tugas itu biasanya dilakukan oleh Ish.
Akhirnya, Ya'qub pun melakukannya dengan ikhlas dan tulus. baginya, melayani orang tua merupakan pekerjaan mulia serta wujud rasa baktinya sebagai seorang anak.
Karena pelayanannya baik, Nabi Ishaq as sangat gembira. Dengan hati yang diliputi rasa gembira dan bahagia, Nabi Ishaq as kemudian mendoakan Ya'qub,
"Wahai anakku, semoga engkau menurunkan para nabi dan raja," doa Nabi Ishaq.
Doa Ayah.
Namun, rupanya doa Nabi Ishaq itu didengar oleh Ish, saudara Ya'qub. Ish sangat marah dan sedih hati. menurutnya, doa ayahnya itu seharusnya ditujukan untuk dirinya karena dia yang mengurus keperluan ayahnya sehari-hari.
Ish mengatakan kepada saudarnya bahwa Ya'qub telah lancang dengan menyiapkan hidangan makanan untuk ayahnya yang sudah biasa menjadi tugasnya. Rasa marah itu akhirnya menjadi dendam kesumat kepada Ya'qub. Ish kemudian mengancam akan membunuh Ya'qub agar doa ayahnya tidak menjadi kenyataan.
Karena yang berdoa adalah seorang kekasih Allah SWT, banyak kemungkinan diterima dan ternyata memang benar diterima Allah SWT doa Nabi Ishaq ini. Meski ada hambatan di sana-sini, namun Allah tetap akan meujudkannya.
Nah, rupanya rencana pembunuhan terhadap Ya'qub itu diketahui oleh istri Nabi Ishaq, Ibu Rifqah. Agar kejadian buruk itu tidak terjadi, kemudian Rifqah menyuruh Ya'qub menuju Aram, yaitu daerah yang termasuk Babilonia. Di Fadam Aram itu, Ya'qub tinggal bersama pamannya yang bernama Laban bin Batwih.
Ya'qub segera berangkat menuju Aram. Perjalanannya dilakukan secara sembunyi-sembunyi untuk menghindari saudaranya. Ya'qub memilih berjalan pada malam hari dan sembunyi ketika siangnya dipakai untuk beristirahat.
Karena kebiasaan dalam perjalanan tersebut, anak keturunan Ya'qub disebut Israil yang berarti BERJALAN DI MALAM HARI.
Setibanya di Fadam Aram, Laban bin Batwih menerima Ya'qub dengan baik. Laban bin Batwih merasa senang dengan perilaku dan sikap Ya'qub yang baik dan jujur sehingga mengangkatnya sebagai anak.
Ya'qub Dinikahkan.
Laban bin Batwih memiliki dua orang anak perempuan yang bernama Lai'ah dan Rahil.
Keduanya kemudian dinikahkan dengan Ya'qub yang ketika itu menikahi saudara kabdung belum diharamkan oleh Allah SWT.
Dalam perjalanan selanjutnya, Ya'qub juga menikahi Zulfa, seorang budak perempuan Lai'ah, serta Balha, buda perempuan Rahil. Dari keempat istrinya itu, Ya'qub dikarunia 12 anal laki-laki.
Anak Turun Nabi.
Rupanya doa ayahnya, Nabi Ishaq as sebelum Ya'qub menuju Fadam Aram menjadi kenyataan. Di kemudian hari, dari keturunannya telah lahir Nabi perkasa, yaitu Nabi Sulaiman as dan Nabi Musa as.
Berikut ini silsilah garis Turun Nabi Ishaq as dengan garis Nabi Ya'qub as.
Dari anak turun Lawi terlahir:
Nabi Musa as.
Nabi Harun as.
Nabi Ilyas as.
Nabi Ilyasa as.
Dari anak turun Yahudza terlahir:
Nabi Daud as.
Nabi Sulaiman as.
Nabi Yahya as.
Nabi Isa as.
Dari anak turun Bunyamin terlahir:
Nabi Yunus as.
Karena telah menjadi seorang anak yang berbakti, maka seorang ayah mendoakan anaknya tersebut agar dikarunia banyak keturunan yang menjadi Nabi nantinya.
Doa yang tulus tersebut dikabulkan oleh Allah SWT.
Sebelumnya mari kita lihat ayat suci Al Qur'an berikut ini, Surat Maryam ayat 49.
فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَكُلا جَعَلْنَا نَبِيًّا
Artinya:
"Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya'qub. dan masing-masingnya Kami angkat menjadi Nabi."
(QS. Maryam: 49).
Kisahnya.
Kisah ini terjadi pada zaman Nabi Ishaq as, yang merupakan keturunan dari nabi Ibrahim. Dan banyak yang bilang bahwa abi Ibrahim as adalah bapaknya para Nabi. Kenapa bisa begitu kita ikuti kisahnya.
Nabi ishaq memiliki 2 orang anak yaitu Ish dan Ya'qub.
Ish sehari-hari mengurus keperluan Nabi Ishaq ketika ia telah berusia tua dan penglihatannya tidak baik lagi. Dialah yang menyiapkan segala keerluan ayahnya sehari-hari.
Entah kenapa pada suatu hari, bukan Ish yang disuruh ibunya, Rifqah, untuk meyiapkan hidangan ke ayahnya, namun justru Ya'qub. Mungkin sudah menjadi kehendak Allah SWT.
Padahal tugas itu biasanya dilakukan oleh Ish.
Akhirnya, Ya'qub pun melakukannya dengan ikhlas dan tulus. baginya, melayani orang tua merupakan pekerjaan mulia serta wujud rasa baktinya sebagai seorang anak.
Karena pelayanannya baik, Nabi Ishaq as sangat gembira. Dengan hati yang diliputi rasa gembira dan bahagia, Nabi Ishaq as kemudian mendoakan Ya'qub,
"Wahai anakku, semoga engkau menurunkan para nabi dan raja," doa Nabi Ishaq.
Doa Ayah.
Namun, rupanya doa Nabi Ishaq itu didengar oleh Ish, saudara Ya'qub. Ish sangat marah dan sedih hati. menurutnya, doa ayahnya itu seharusnya ditujukan untuk dirinya karena dia yang mengurus keperluan ayahnya sehari-hari.
Ish mengatakan kepada saudarnya bahwa Ya'qub telah lancang dengan menyiapkan hidangan makanan untuk ayahnya yang sudah biasa menjadi tugasnya. Rasa marah itu akhirnya menjadi dendam kesumat kepada Ya'qub. Ish kemudian mengancam akan membunuh Ya'qub agar doa ayahnya tidak menjadi kenyataan.
Karena yang berdoa adalah seorang kekasih Allah SWT, banyak kemungkinan diterima dan ternyata memang benar diterima Allah SWT doa Nabi Ishaq ini. Meski ada hambatan di sana-sini, namun Allah tetap akan meujudkannya.
Nah, rupanya rencana pembunuhan terhadap Ya'qub itu diketahui oleh istri Nabi Ishaq, Ibu Rifqah. Agar kejadian buruk itu tidak terjadi, kemudian Rifqah menyuruh Ya'qub menuju Aram, yaitu daerah yang termasuk Babilonia. Di Fadam Aram itu, Ya'qub tinggal bersama pamannya yang bernama Laban bin Batwih.
Ya'qub segera berangkat menuju Aram. Perjalanannya dilakukan secara sembunyi-sembunyi untuk menghindari saudaranya. Ya'qub memilih berjalan pada malam hari dan sembunyi ketika siangnya dipakai untuk beristirahat.
Karena kebiasaan dalam perjalanan tersebut, anak keturunan Ya'qub disebut Israil yang berarti BERJALAN DI MALAM HARI.
Setibanya di Fadam Aram, Laban bin Batwih menerima Ya'qub dengan baik. Laban bin Batwih merasa senang dengan perilaku dan sikap Ya'qub yang baik dan jujur sehingga mengangkatnya sebagai anak.
Ya'qub Dinikahkan.
Laban bin Batwih memiliki dua orang anak perempuan yang bernama Lai'ah dan Rahil.
Keduanya kemudian dinikahkan dengan Ya'qub yang ketika itu menikahi saudara kabdung belum diharamkan oleh Allah SWT.
Dalam perjalanan selanjutnya, Ya'qub juga menikahi Zulfa, seorang budak perempuan Lai'ah, serta Balha, buda perempuan Rahil. Dari keempat istrinya itu, Ya'qub dikarunia 12 anal laki-laki.
Anak Turun Nabi.
Rupanya doa ayahnya, Nabi Ishaq as sebelum Ya'qub menuju Fadam Aram menjadi kenyataan. Di kemudian hari, dari keturunannya telah lahir Nabi perkasa, yaitu Nabi Sulaiman as dan Nabi Musa as.
Berikut ini silsilah garis Turun Nabi Ishaq as dengan garis Nabi Ya'qub as.
| NO | Nama Istri | Nama Anak |
| 1 | Rahil | Yusuf, Bunyamin |
| 2 | Lai'ah | Ra-ubin (Rabil), Syam'un, Lawi, Yahudza, Yasakir, Zabulun |
| 3 | Balha | Daan, Naftali |
| 4 | Zulfa | Zaad, Asyir |
Dari anak turun Lawi terlahir:
Nabi Musa as.
Nabi Harun as.
Nabi Ilyas as.
Nabi Ilyasa as.
Dari anak turun Yahudza terlahir:
Nabi Daud as.
Nabi Sulaiman as.
Nabi Yahya as.
Nabi Isa as.
Dari anak turun Bunyamin terlahir:
Nabi Yunus as.
Selasa, 20 Desember 2011
Unta Betina Nabi Shaleh Dibunuh
Kisah islamiah pada pagi hari ini tentang mukjizat Nabi Shaleh as.
Sedikit kisah ini dicuplik dari kitab Aqoiqul Akbar Fii Dzikril Jannati Wan-Nar.
Sudah pada tahu kan tentang kisahnya Nabi Shaleh as.
Dikisahkan bahwa Nabi Shaleh as ditantang oleh kaum Tsamud sebagai tanda kenabiannya.
Nabi Shaleh as kemudian berdoa kepada Allah SWT dan doanya dikabulkan.
Seekor unta betina yang sangat luar biasa indahnya muncul dari puncak bukit. Belum pernah ada unta seindah itu di permukaan bumi ini.
Unta itu memiliki air susu yang tidak ada habis-habisnya.
Setiap orang boleh mengambil air susu dari unta betina tersebut. Akan tetapi, unta itu harus dibiarkan bebas berkeliaran.
Unta betina itu tidak boleh diganggu.
Namun, kaum Tsamud malah membunuh unta tersebut. Sebagai balasannya, Allah SWT menurunkan azab kepada kaum Tsamud
Sedikit kisah ini dicuplik dari kitab Aqoiqul Akbar Fii Dzikril Jannati Wan-Nar.
Sudah pada tahu kan tentang kisahnya Nabi Shaleh as.
Dikisahkan bahwa Nabi Shaleh as ditantang oleh kaum Tsamud sebagai tanda kenabiannya.
Nabi Shaleh as kemudian berdoa kepada Allah SWT dan doanya dikabulkan.
Seekor unta betina yang sangat luar biasa indahnya muncul dari puncak bukit. Belum pernah ada unta seindah itu di permukaan bumi ini.
Unta itu memiliki air susu yang tidak ada habis-habisnya.
Setiap orang boleh mengambil air susu dari unta betina tersebut. Akan tetapi, unta itu harus dibiarkan bebas berkeliaran.
Unta betina itu tidak boleh diganggu.
Namun, kaum Tsamud malah membunuh unta tersebut. Sebagai balasannya, Allah SWT menurunkan azab kepada kaum Tsamud
Senin, 19 Desember 2011
Mengembalikan Bola Mata yang Terlepas
Kisah Islamiah pagi hari ini tentang Kisah Nabi dan Mukjizat.
Rasulullah SAW dengan mukjizatnya mampu menyembuhkan, mengembalikan mata salah satu sahabatnya.
Subhanallah....
Garis bawahi doa Rasulullah SAW di bawah, Insya Allah bisa meneteslah air mata pembaca.
Ketika terjadi Perang Badar, Umat Islam sempat dalam posisi sangat terdesak. Karena itu, beberapa sahabat memagari tubuh Rasululah SAW agar tidak diserang musuh.
Salah satu sahabat, prajurit islam ada yang bernama Qatadah. Qatadah memeluk erat tubuh Rasulullah SAW. Namun matanya terkena anak panah hingga terlepaslah bola matanya ke tanah.
Kisahnya.
Pada awalnya dalam perang tersebut umat islam telah menang.
Namun, karena pasukan pemanah yang ada di atas bukit telah mengabaikan perintah Rasulullah SAW, akhirnya keadaan menjadi berbalik. Umat Islam terdesak.
Pasukan pemanah umat islam di atas bukit pad turun karena tergiur dengan harta benda yang berserakan di bawah bukit. Amanat Rasul pun dilanggar oleh mereka.
Pada saat itulah panglima perang kafir berhasil merebut posisi strategis, dan menempatkan prajurit pemanah di atas bukit yang ditinggalkan kaum muslimin.
Mereka akhirnya berhasil meluluh-lantahkan pasukan islam yang berada di bawah bukit.
Pasukan kafir menghujani anak panah hingga banyaklah pasukan islam yang tewas kala itu. Tak luput pula, Rasulullah SAW menjadi sasaran bidikan anak panak pasukan musuh.
Pasukan Khusus Menyerbu Rasulullah SAW.
Bersamaan dengan itu pula, ada sebuah pasukan khusus yang datang menyerbu Rasulullah SAW sehingga wajah dan bibir Beliau tergores oleh pedang musuh.
Prajurit muslim yang mengetahui hal itu, segera saja berkumpul mengelilingi tubuh Rasulullah SAW. Sebuah benteng berupa tubuh prajurit muslim itu berusaha sekuat tenaga agar Rasulullah selamat dari hujan panah dan sabetan pedang musuh.
Ada 2 orang sahabat yang memeluk tubuh Rasulullah dari depan dan belakang. Dua orang tersebut bernama Abu Dujanah dan Qatadah. Abu Dujanah yang merangkul Rasulullah dari depan terkena sabetan pedang beberapa kali hingga tubuhnya bersimbah darah.
Sedangkan Qatadah sendiri yang memeluk Rasul dari arah belakang telah terkena anak panah salah satu matanya hingga bola matanya keluar. Darah pun menyembur keluar dari mata dan Qatadah berkata,
"Wahai Rasulullah, mataku....mataku..."
Anak Panah Menancap di Mata.
Dengan cepat Rasulullah mengambil bola mata yang keluar tersebut dan memasangnya kembali ke tempatnya seraya berdoa,
"Ya Allah, lindungilah mata Qatadah sebagaimana ia telah melindungi Nabi-Mu. Kembalikan matanya hingga lebih elok dan lebih tajam."
Sungguh ajaib, mata Qatadah kembali seperti semula dan bisa melihat lagi tubuh musuh. Qatadah yang menyadari akan hal itu, belum sempat berterimakasih, langsung saja menyabetkan pedangnya ke tubuh musuh.
Subhanallah...sungguh mukjizat yang tiada tara.
Tanpa operasi, sebuah bola mata bisa kembali ke pelupuk mata dengan sempurna bahkan lebih elok dan penglihatan Qatadah lebih tajam.
Rasulullah SAW dengan mukjizatnya mampu menyembuhkan, mengembalikan mata salah satu sahabatnya.
Subhanallah....
Garis bawahi doa Rasulullah SAW di bawah, Insya Allah bisa meneteslah air mata pembaca.
Ketika terjadi Perang Badar, Umat Islam sempat dalam posisi sangat terdesak. Karena itu, beberapa sahabat memagari tubuh Rasululah SAW agar tidak diserang musuh.
Salah satu sahabat, prajurit islam ada yang bernama Qatadah. Qatadah memeluk erat tubuh Rasulullah SAW. Namun matanya terkena anak panah hingga terlepaslah bola matanya ke tanah.
Kisahnya.
Pada awalnya dalam perang tersebut umat islam telah menang.
Namun, karena pasukan pemanah yang ada di atas bukit telah mengabaikan perintah Rasulullah SAW, akhirnya keadaan menjadi berbalik. Umat Islam terdesak.
Pasukan pemanah umat islam di atas bukit pad turun karena tergiur dengan harta benda yang berserakan di bawah bukit. Amanat Rasul pun dilanggar oleh mereka.
Pada saat itulah panglima perang kafir berhasil merebut posisi strategis, dan menempatkan prajurit pemanah di atas bukit yang ditinggalkan kaum muslimin.
Mereka akhirnya berhasil meluluh-lantahkan pasukan islam yang berada di bawah bukit.
Pasukan kafir menghujani anak panah hingga banyaklah pasukan islam yang tewas kala itu. Tak luput pula, Rasulullah SAW menjadi sasaran bidikan anak panak pasukan musuh.
Pasukan Khusus Menyerbu Rasulullah SAW.
Bersamaan dengan itu pula, ada sebuah pasukan khusus yang datang menyerbu Rasulullah SAW sehingga wajah dan bibir Beliau tergores oleh pedang musuh.
Prajurit muslim yang mengetahui hal itu, segera saja berkumpul mengelilingi tubuh Rasulullah SAW. Sebuah benteng berupa tubuh prajurit muslim itu berusaha sekuat tenaga agar Rasulullah selamat dari hujan panah dan sabetan pedang musuh.
Ada 2 orang sahabat yang memeluk tubuh Rasulullah dari depan dan belakang. Dua orang tersebut bernama Abu Dujanah dan Qatadah. Abu Dujanah yang merangkul Rasulullah dari depan terkena sabetan pedang beberapa kali hingga tubuhnya bersimbah darah.
Sedangkan Qatadah sendiri yang memeluk Rasul dari arah belakang telah terkena anak panah salah satu matanya hingga bola matanya keluar. Darah pun menyembur keluar dari mata dan Qatadah berkata,
"Wahai Rasulullah, mataku....mataku..."
Anak Panah Menancap di Mata.
Dengan cepat Rasulullah mengambil bola mata yang keluar tersebut dan memasangnya kembali ke tempatnya seraya berdoa,
"Ya Allah, lindungilah mata Qatadah sebagaimana ia telah melindungi Nabi-Mu. Kembalikan matanya hingga lebih elok dan lebih tajam."
Sungguh ajaib, mata Qatadah kembali seperti semula dan bisa melihat lagi tubuh musuh. Qatadah yang menyadari akan hal itu, belum sempat berterimakasih, langsung saja menyabetkan pedangnya ke tubuh musuh.
Subhanallah...sungguh mukjizat yang tiada tara.
Tanpa operasi, sebuah bola mata bisa kembali ke pelupuk mata dengan sempurna bahkan lebih elok dan penglihatan Qatadah lebih tajam.
Seorang Sufi Mampu Menaklukkan Iblis
Kisah Islamiah sore menjelang malam ini tentang kisah KAROMAH.
Adalah Abu Sa'id Al Kharraz yang kesufiannya telah diakui oleh Rasulullah SAW dan 2 Malaikat.
Pernah pada suatu saat ia bermimpi bertemu dengan Iblis.
Saat itu iblis takluk kepadanya dan membuka dua cara rahasia dalam emngganggu manusia.
Kisahnya.
Abu Sa'id lahir di Baghdad dan pada awalnya ia hanya seorang tukang sepatu.
Akan tetapi pada akhirnya ia menimba ilmu kepada Dzun Nun Al Mishri dan bersahabat dengan Bisyr Al Hafi dan Sari As Saqathi.
Kesufian Abu Sa'id sangat terkenal saat itu.
Bahkan ia sempat diberi julukan sebagai "Lidah Sufirme" karena begitu cintanya kepada Allah SWT.
Selain itu, Abu Sa'id telah mengarang 400 buah buku.
Karena kemuliaan hatinya itu, Allah SWT memberikan karomah kepadanya, yang antara lain adalah mampu menaklukkan iblis meskipun itu terjadi hanya di dalam mimpi.
Dalam sebuha mimpi, ia bertemu dengan iblis. Abu Sa'id mengambil sebuah tongkat untuk memukulnya.
Pada saat itu juga terdengar oleh Sa'id sebuah seruan dari langit,
"Ia tidak takut kepada tongkat itu, yang ditakutinya adalah cahaya di dalam hatimu."
Rahasia Iblis.
Kemudian Abu Sa'id berkata kepada iblis,
"Kemarilah," seru Sa'id.
"Apalah dayaku terhdapmu? Aku tunduk kepadamu, engkau telah mencampakkan sesuatu yang dapat akau gunakan untuk menyesatkan manusia," ujar iblis.
"Apakah itu? Jelaskanlah kepadaku," tanya Abu Sa'id.
"Dunia," jawab Iblis.
Kemudian ketika meninggalkan Abu Sa'id, iblis tersebut menoleh ke belakang dan berkata,
"Ada suatu hal kecil di dalam diri manusia yang dapat kugunakan untuk mencapai tujuanku."
"Apakah itu?" tanya Abu Sa'id.
"Duduk bersama dengan para remaja," jawab iblis.
Itulah salah satu karomah yang terkenal dari Abu Sa'id selain mampu berdialog dengan Rasulullah SAW dan Malaikat di dalam mimpinya.
Adalah Abu Sa'id Al Kharraz yang kesufiannya telah diakui oleh Rasulullah SAW dan 2 Malaikat.
Pernah pada suatu saat ia bermimpi bertemu dengan Iblis.
Saat itu iblis takluk kepadanya dan membuka dua cara rahasia dalam emngganggu manusia.
Kisahnya.
Abu Sa'id lahir di Baghdad dan pada awalnya ia hanya seorang tukang sepatu.
Akan tetapi pada akhirnya ia menimba ilmu kepada Dzun Nun Al Mishri dan bersahabat dengan Bisyr Al Hafi dan Sari As Saqathi.
Kesufian Abu Sa'id sangat terkenal saat itu.
Bahkan ia sempat diberi julukan sebagai "Lidah Sufirme" karena begitu cintanya kepada Allah SWT.
Selain itu, Abu Sa'id telah mengarang 400 buah buku.
Karena kemuliaan hatinya itu, Allah SWT memberikan karomah kepadanya, yang antara lain adalah mampu menaklukkan iblis meskipun itu terjadi hanya di dalam mimpi.
Dalam sebuha mimpi, ia bertemu dengan iblis. Abu Sa'id mengambil sebuah tongkat untuk memukulnya.
Pada saat itu juga terdengar oleh Sa'id sebuah seruan dari langit,
"Ia tidak takut kepada tongkat itu, yang ditakutinya adalah cahaya di dalam hatimu."
Rahasia Iblis.
Kemudian Abu Sa'id berkata kepada iblis,
"Kemarilah," seru Sa'id.
"Apalah dayaku terhdapmu? Aku tunduk kepadamu, engkau telah mencampakkan sesuatu yang dapat akau gunakan untuk menyesatkan manusia," ujar iblis.
"Apakah itu? Jelaskanlah kepadaku," tanya Abu Sa'id.
"Dunia," jawab Iblis.
Kemudian ketika meninggalkan Abu Sa'id, iblis tersebut menoleh ke belakang dan berkata,
"Ada suatu hal kecil di dalam diri manusia yang dapat kugunakan untuk mencapai tujuanku."
"Apakah itu?" tanya Abu Sa'id.
"Duduk bersama dengan para remaja," jawab iblis.
Itulah salah satu karomah yang terkenal dari Abu Sa'id selain mampu berdialog dengan Rasulullah SAW dan Malaikat di dalam mimpinya.
Semut Nabi Sulaiman Masuk Surga
Kisah Islamiah pada sore ini tentang salah satu hewan yang akan masuk surga.
Seperti kita ketahui bahwa setidaknya ada 10 hewan yang nantinya akan menjadi penghuni surga menurut beberapa riwayat yang admin baca.
Dan salah satunya adalah semut Nabi Sulaiman ini, dan ditulis dalam kitab Daqoiqul Akbar Fii Dzikril Jannati Wan-Nar.
Ingin tahu kenapa semut ini mendapat predikat penghuni surga.
Simak Kisah Semut Nabi Sulaiman ini.
Kisahnya.
Pada suatu hari, Baginda Nabi Sulaiman as melihat seekor semut tengah mengangkat sebutir buah kurma.
"Wahai semut kecil, untuk apakah kurma yang engkau bawa itu?" tanya Nabi Sualaiman as.
Si Semut menjawab,
"Wahai Baginda Raja, ini adalah kurma yang Allah SWT berikan kepadaku sebagai makananku selama satu tahun."
Baginda Nabi Sulaiman as kemudian mengambil sebuah botol lalu ia berkata kepada semut,
"Wahai semut, kemarilah engkau, masuklah ke dalam botol ini. Aku telah membagi dua kurma ini dan akan aku berikan separuhnya kepadamu sebagai makananmu selama satu tahun. Tahun depan aku akan melihatmu kembali."
Semut Mentaati Raja Sulaiman as.
Si semut taat pada perintah Nabi Sulaiman as.
Setahun telah berlalu, Baginda Sulaiman as datang untuk melihat keadaan si semut.
Ia melihat kurma yang diberikan kepada si semut itu tidak banyak berkurang. Baginda Sulaiman as bertanya kepada semut kenapa kurma yang hanya separuh itu tidak habis selama satu tahun.
"Wahai semut, mengapa separuh kurma itu tudak habis selama setahun?" tanya Baginda Sulaiman as.
"Aku selama ini hanya menghisap airnya saja dan aku banyak berpuasa," jawab si semut.
Kemudian si semut melanjutkan penuturannya.
"Selama ini Allah SWT yang memberikan kepadaku sebutir kurma setiap tahunnya. Akan tetapi Baginda Sulaiman as telah memberiku hanya separuh saja. Aku sangat takut bila tahun depan engkau tidak memberiku lagi kurma karena hanya Allah sajalah Yang Maha Pemberi," jelas si semut.
"Benarlah apa yang telah engkau katakan wahai semut," jawab Nabi Sulaiman as yang kemudian beristighfar.
Nabi Sulaiman as langsung beristighfar dan bertasbih memuji nama Allah SWT melihat penuturan si semut. Memang Allah SWT Maha Pemberi.
Karena ketaatan semut ini kepada perintah Allah SWT dan Rasul-Nya, hingga semut ini menjadi salah satu penghuni surga nantinya.
Seperti kita ketahui bahwa setidaknya ada 10 hewan yang nantinya akan menjadi penghuni surga menurut beberapa riwayat yang admin baca.
Dan salah satunya adalah semut Nabi Sulaiman ini, dan ditulis dalam kitab Daqoiqul Akbar Fii Dzikril Jannati Wan-Nar.
Ingin tahu kenapa semut ini mendapat predikat penghuni surga.
Simak Kisah Semut Nabi Sulaiman ini.
Kisahnya.
Pada suatu hari, Baginda Nabi Sulaiman as melihat seekor semut tengah mengangkat sebutir buah kurma.
"Wahai semut kecil, untuk apakah kurma yang engkau bawa itu?" tanya Nabi Sualaiman as.
Si Semut menjawab,
"Wahai Baginda Raja, ini adalah kurma yang Allah SWT berikan kepadaku sebagai makananku selama satu tahun."
Baginda Nabi Sulaiman as kemudian mengambil sebuah botol lalu ia berkata kepada semut,
"Wahai semut, kemarilah engkau, masuklah ke dalam botol ini. Aku telah membagi dua kurma ini dan akan aku berikan separuhnya kepadamu sebagai makananmu selama satu tahun. Tahun depan aku akan melihatmu kembali."
Semut Mentaati Raja Sulaiman as.
Si semut taat pada perintah Nabi Sulaiman as.
Setahun telah berlalu, Baginda Sulaiman as datang untuk melihat keadaan si semut.
Ia melihat kurma yang diberikan kepada si semut itu tidak banyak berkurang. Baginda Sulaiman as bertanya kepada semut kenapa kurma yang hanya separuh itu tidak habis selama satu tahun.
"Wahai semut, mengapa separuh kurma itu tudak habis selama setahun?" tanya Baginda Sulaiman as.
"Aku selama ini hanya menghisap airnya saja dan aku banyak berpuasa," jawab si semut.
Kemudian si semut melanjutkan penuturannya.
"Selama ini Allah SWT yang memberikan kepadaku sebutir kurma setiap tahunnya. Akan tetapi Baginda Sulaiman as telah memberiku hanya separuh saja. Aku sangat takut bila tahun depan engkau tidak memberiku lagi kurma karena hanya Allah sajalah Yang Maha Pemberi," jelas si semut.
"Benarlah apa yang telah engkau katakan wahai semut," jawab Nabi Sulaiman as yang kemudian beristighfar.
Nabi Sulaiman as langsung beristighfar dan bertasbih memuji nama Allah SWT melihat penuturan si semut. Memang Allah SWT Maha Pemberi.
Karena ketaatan semut ini kepada perintah Allah SWT dan Rasul-Nya, hingga semut ini menjadi salah satu penghuni surga nantinya.
Langganan:
Postingan (Atom)





