Rabu, 03 Oktober 2012

Pertemuan Nabi Khidir dan Ibrahim bin Adham

Siapa Ibrahim bin Adham itu.
Beliau adalah seorang Raja Baikh yang emninggalkan istana untuk menjadi seorang sufi.
Pada saat ketenaran Ibrahim bin Adham sudah tersebar luas, dia meninggalkan gua pertapaannya dan pergi menuju Mekah.

Dialah salah seorang sufi teladan umat Islam yang terkenal.
Naga pun berusjud di hadapannya.


Kisah.
Di tengah padang pasir, Ibrahim berjumpa dengan seorang tokoh besar agama yang mengajarkan kepadanya nama-nama Teragung dari Allah SWT. Dengan Nama yang teragung itulah Ibrahim menyebut Allah SWT dan sesaat kemudian ia dikarunia bertemu dengan Nabi Khidir as.
"Ibrahim," kata Nabi Khidir as.
"Saudaraku Daudlah yang mengajarkan kepadamu nama-nama Teragung dari Allah SWT itu," kata Nabi Khidir as lebih lanjut.

Haa..jadi yang tadi adalah Nabi Daud as yang menjumpai Ibrahim bin Adham.
Kemudian mereka berbincang-bincang mengenai berbagai masalah.
Dari perbincangan itulah Ibrahim menyerap berbagai ilmu hakiki. Dengan seizin Allah SWT, Nabi Khidir as adalah manusia pertama yang telah menyelamatkan Ibrahim.

Selanjutnya, perjalanan diteruskan menempuh ganasnya padang pasir.
Sesampainya di Dzatul Irq, Ibrahim bertemu dengan 70 orang yang berjubah kain perca tergeletak mati dan darah mengalir dari hidung dan telinga mereka. Ibrahim berjalan mengitari mayat-mayat tersebut dan ternyata salah seorang dari mereka masih hidup.

"Anak muda, apakah yang telah terjadi?" tanya Ibrahim.
Orang itu menjawab,
"Wahai manusia, beradalah di dekat air dan tempat shalat, janganlah menjauh agar engkau tidak dihukum. Tetapi jangan pula terlalu dekat agar engkau tidak celaka. Tidak seorangpun boleh bersikap terlampau berani di depan sultan. Takutilah sahabat yang membantai dan memerangi para peziarah ke tanah suci seakan-akan mereka itu orang-orang kafir Yunani."

"Siapakah kalian?" tanya Ibrahim.
"Kami adalah rombongan sufi yang menembus padang pasir dengan berpasrah kepada Allah SWT dan berjanji tidak akan mengucapkan sepatah katapun di dalam perjalanan kecuali hanya mengingat Allah SWT. Dan kmai tidak peduli kepada sesuatu pun selain kepada-Nya." jawab orang itu.

Senin, 01 Oktober 2012

Nabi Khidir Masih Hidup Hingga Akhir Zaman

Berikut berbagai pernyataan yang membenarkan bahwa Nabi Khidir as masih hidup hingga sekarang. Diantaranya hadits-hadits, ulama-ulama.
Nabi Khidir as merupakan guru teladan dari banyak kaum sufi, wali dan sebagainya.

Kisah.
Ulama besar ahli hadits yaitu Imam An-Nawawi menyebitkan bahwa dia sendiri berselisih pendapat tentang hidupnya Nabi Khidir as.


Sebagian besar ulama beranggapan bahwa Khidir masih hidup di tengah-tengah kita. Imam An-Nawawi berkata,
"Pendapat ini tidak ditentang sedikitpun oleh ulama-ulama kaum sufi dan ahli-ahli ma'rifat. Mereka pun pernah menceritakan pengalamannya pada waktu berjumpa, berkumpul dan berbincang-bincang dengan Nabi Khidir as. Dia (Khidir) terlalu mulia untuk dicaci atau dicari-cari aibnya, dan dia akan tetap dikenal walaupun kita berusaha menutup-nutupi berita tentang dirinya."

Di dalam kitab Syarah Muhadzab Juz V, halaman 305.
Imam An-Nawawi berkata bahwa ada beberapa orang sahabatnya yang mempunyai dalil yang membuktikan masih hidupnya Nabi Khidir as. Dia berkata,
"Dan sebagian besar ulama berkeyakinan bahwa Nabi Khidir as masih hidup sampai sekarang."

Syeikh Ismail Haqqi berkata,
"Kaum sufi dan para ulama bersepakat dengan keyakinan mereka bahwa Nabi Khidir as masih hidup hingga sekarang."

Pendapat itu diikuti oleh Imam Arabi, Abu Thalib Al-Makki dan Al-Hakim. Terus At-Turmudzi, Ibnu Adham, Basyar Al-Hafi, Ma'ruf Al-Karkhi, Sari As-Saqati, Al-Junaidi, bahkan Khalifah Umar ibn Abdul Aziz r.a.

Di Akhir kitab Sahih Musim bab yang menyebutkan hadits-hadits tentang Dajjal, Abu Said Al-Khudri berkata,
Pada suatu hari Rasulullah SAW pernah bercerita panjang lebar kepada kami tentang diri Dajjal.

Rasulullah SAW bersabda,
"Ia datang tetapi diharamkan untuk memasuki lingkungan Madinah. Lalu ia berhenti di sebagian daerah yang terdapat sesudah Madinah dan pada suatu hari ia didatangi oelh seorang laki-laki yang baik termasuk orang yang terbaik di antara manusia saat itu.
Kemudian dia berkata,
"Saya bersaksi bahwa Anda ini adalah Dajjal yang diceritakan Nabi SAW dalam haditsnya."
"Bagaimana menurut kalian jika aku membunuh orang ini lalu aku menghidupkannya kembali, apakah kalian mengusulkan sesuatu?" jawab Dajjal.
Mereka menjawab," Tidak."
Lalu Dajjal membunuh orang itu kemudian menghidupkannya lagi. Ketika orang itu akan dihidupkan lagi, dia berkata,
"Demi Allah, di kalangan Anda sama sekali tidak aku dapati hari ini orang yang paling hebat pikirannya dibanding aku."
Maka Dajjal pun bermaksud membunuhnya kembali, tapi tidak kuasa lagi membunuhnya.

Abu Ishak berkata,
"Orang laki-laki itu adalah Nabi Khidir as."
Siapa Abu Ishak ini, diala seorang muslim bernama asli Ibrahim bin Sofyan. Dia banyak meriwayatkan kisah dari Imam Muslim.

Sedangkan Mu'ammar berkata dalam kitabnya Musnad,
"Lelaki yang pernah dijumpainya itu adalah Sayyidina Khidir."
Kemudian Mu'ammar menjelaskan hadits nabi nseperti di atas.
Dia berkata,
"Hadits Rasulullah itu sebagai bukti bahwasanya Nabi Khidir as masih hidup."

Minggu, 30 September 2012

Niat Thawaf Tapi Mengelilingi Orang Miskin

Berikut ini ada Kisah Teladan Islami yang bagus, dan cocok sebagai renungan pada diri setiap muslim. Seseorang yang akan pergi haji akhirnya membatalkan hajinya demi seorang laki-laki yang miskin. Bekalnya pun diberikan semuanya.


Kisahnya.
Pada saat musim haji tiba, berangkatlah seorang laki-laki untuk menunaikan ibadah haji. Katakan saja namanya Ahmad.

Dalam perjalanannya ke kota Makkah, Ahmad bertemu dengan seorang laki-laki miskin. Kemudian laki-laki miskin itu bertanya kepada Ahmad,
"Bapak hendak pergi kemana?"
Ahmad menjawab,
"Saya akan pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji."
"Berapakah bekal yang engkau bawa?" tanya laki-laki miskin itu lagi.
"Saya membawa bekal uang sebanyak 200 dirham," jawab Ahmad.


Dengan sangat terpaksa laki-laki miskin ini berkata lagi,
"Berikanlah uangmu itu kepadaku, karena aku ini adalah seorang laki-laki miskin yang menanggung biaya kehidupan satu keluarga besar. Kelilingilah aku tujuh kali, karena itulah sebagai ganti hajimu."

Akhirnya Ahmad yang semula hendak pergi menunaikan ibadah haji ke Makkah, gagal pergi ke sana. Karena ia menyadari bahwa menolonh orang miskin itu lebih berharga daripada melaksanakan ibadah haji. Sehingga Ahmad memberikan uangnya kepada laki-laki miskin tadi dan kembali pulang ke rumahnya.

Dewasa ini, banyak sekali orang yang lebih mementingkan diri mereka sendiri daripada memperhatikan orang-orang yang tidak punya yang ada di sekeliling mereka. Sehingga mereka tetap akan menunaikan ibadah haji tanpa perlu memandang kemiskinan para tetangganya.

Sabtu, 29 September 2012

Ali bin Abu Thalib dan Orang Yahudi

Pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abu Thalib, beliau pernah kehilangan baju besinya yang terjatuh dari kuda miliknya. Setelah dicari kemana-mana, ternyata baju besi itu sudah berada di tangan seorang yahudi. Akan tetapi, setelah diminta, orang yahudi itu tetap mempertahankan baju besi tersebut dan mengakuinya sebagai miliknya sendiri.


Kisahnya.
Meski Ali bin Abu Thalib pada saat itu sebagai orang nomor satu kaum muslimin, namun tidak begitu saja ambil paksa baju besi miliknya yang hilang. Beliau di situ sebagai penuntut dan disuruh menyiapkan 2 orang saksi. Hakim pun menyuruhnya demikian.

Akhirnya beliaupun menyiapkan 2 orang saksi yaitu seorang pembantunya dan Hasan, anaknya sendiri. Akan tetapi hakim hanya dapat menerima kesaksian dari pembantu Ali, dan tidak dapat menerima kesaksian dari Hasan karena adanya hubungan dekat dengan Khalifah Ali r.a, yaitu antara anak dengan orang tua.

Maka, hakim akhirnya memutuskan bahwa orang yahudi tersebut memenangkan perkara tersebut. Dan Khalifah Ali r.a pun menerima dengan lapang dada apa yang telah menjadi keputusan dari hakim tersebut.

Dalam kasus tersebut, apa yang dilakukan oelh hakim dan Khalifah Ali r.a sebagai pemimpin negara menunjukkan betapa mulianya ajaran Islam dalam masalah hukum dan keadilan. Dalam islam, keadilan tidak boleh memandang hubungan kekerabatan maupun agama.
Begitu juga dengan Allah SWT, Dia akan menghukum siapa saja tanpa pandang bulu, seandainya orang tersebut memang benar-benar bersalah. Allah SWT tidak memandang pangkat, rupa dan status sosial seseorang, tetapi Allah SWT melihat seseorang itu dari bagaimana perbuatan yang telah dialkukan selama hidup di dunia.

Seiring berjalannya waktu, pada akhirnya orang yahudi tersebut mengakui bahwa baju besi itu memang kepunyaan Khalifah Ali bin Abi Thalib ang ditemukannya di jalan.
Setelah melapor kepada Sang Khalifah, baju besi tersebut akhirnya dikembalikan sekaligus orang yahudi tersebut menyatakan diri masuk Islam.

Jumat, 28 September 2012

Kisah Keajaiban Shalat Malam

Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Memuliakan. Oleh karna itu, Dia berhak memuliakan siapa saja dari hamba-Nya yang dikehendali-Nya. Akan tetapi hal ini tidak terlepas dari ketaatan si hamba itu sendiri dalam beribadah kepada-Nya. Dari situ, jika kita ingin dimuliakan Allah SWT, maka kita harus rajin beribadah kepada-Nya dan memperbanyak amal saleh.


Seperti Kisah Teladan Islami berikut ini antara seorang pencuri dan orang yang beriman yang bernama Ahmad ibnu Khuzruya.
Pada suatu malam, seorang pemcuri telah memasuki rumah Ahmad. Dengan lihainya si pencuri itu menggeledah seluruh barang yang dimiliki Ahmad. Tetapi, betapa kecewanya si pencuri itu karena ia tidak menemukan apa-apa di dalam rumah.

Maka ia pun segera beranjak pergi meninggalkan rumah Ahmad.
Ketika hendak melangkahkan kakinya keluar pintu rumah, Ahmad segera memergokinya dan memanggilnya,
"Wahai pemuda, Ambillah air di dalam sumur dengan timba lalu bersihkanlah dirimu (wudhu) dan shalatlah. Nanti jika aku medapatkan sesuatu, maka akan kuberikan kepadamu semuanya agar kamu tidak keluar dari rumah ini dengan tangan kosong."

Bukan main terkejutnya pencuri itu, ditambah dia merasa keheranan dengan perkataan Ahmad ibnu Khuzuruyah. Si pencuri segera mengambil air wudhu dan mengerjakan shalat malam. Ketika keesokan harinya, tiba-tiba saja ada seorang laki-laki datang kepada Ahmad dengan membawa uang 100 dirham untuk diberikan kepada beliau. Setelah uang itu berada di tangan Ahmad, beliaupun lalu memberikan uang itu kepada si pencuri seraya berkata,
"Ambillah uang ini sebagai hadiah dari shalatmu tadi malam."

Setelah mendengar perkataan Ahmad, hati dan seluruh tubuh pencuri itu menjadi bergetar. Tanpa disadari, air mata pun telah menetes di pipinya. Lalau si pencuri berkata,
"Sesungguhnya aku telah menempuh jalan yang salah, tetapi hanya dengan shalat satu kali saja, Allah SWT telah memberikan anugerah kepadaku sebanyak ini. Sungguh aku orang yang tidak tahu malu."

Setelah peristiwa di pagi itu, si pencuri benar-benar ingin bertaubat dari segala apa yang diperbuatnya selama ini dan ingin kembali ke jalan yang benar. Bahkan ia pun menolak uang pemberian dari Ahmad Ibnu Khusruya dan ingin menjadi murid beliau untuk belajar agama Islam.

Demikianlah kisahnya.
Jika Allah SWT sudah berkehendak untuk memuliakan seseorang, maka Dia pun akan memberikan hidayah dan kemudahan kepadanya dalam menjalankan syariat-Nya, seperti dalam kisah shlat malam di atas.

Kamis, 27 September 2012

41 ribu Muslim Melawan 200 ribu Kafir

Dialah wanita Mulia lagi teladan bagi umat islam. Dengan bekal kepandaiannya, keempat anaknya dengan rela dan tulus berjuang di jalan Allah SWT dan keempatnya mati syahid.
Memiliki nama Al Khansa binti Amru, seorang wanita tua yang memiliki semangat juang tinggi dalam membela agama Islam.


Kisah ini pantas dijadikan Teladan Islami dengan kisah sebagai berikut.
Kejadiannya pada masa Khalifah Umar bin Khattab dimana 41 ribu umat Islam melawan 200 ribu orang Persi.

Nasehat Al-Khansa kepada Anaknya.
Ibu tua ini menasehati anak-anaknya yang sebentar lagi akan menuju medan perang.
"Wahai anak-anakku, kalian telah memilih Islam dengan suka rela. Kemudian kalian berhijrah dengan sukarela pula. Demi Allah, yang tiada Tuhan lain selain Dia, sesungguhnya kalian adalah putra dari seorang laki-laki dengan seorang wanita. Aku tidak pernah mengkhianati ayahmu, aku tidak pernah burukkan saudara-saudaramu, aku tidak pernah mengubah hubungan kamu. Kalian tahu pahala yang disediakan kaum muslimin dalam memerangi kaum kafir. Ketahuilah, kampung yang kekal itu lebih baik daripada kampung yang binasa."

Kemudian ibunya, Al-Khansa membacakan ayat suci Al-Qur'an,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.
(QS. Ali Imran: 200)

Kemudian si ibu melanjutkan penuturannya.
"Jika kalian bangun besok pagi, insya Alloh dalam keadaan selamat, maka keluarlah berperang. Gunakan pengalamanmu dan mohonlah pertolongan Allah SWT. Jika kalian melihat api pertempujran semakin hebat, masujklah kalian ke dalamnya. Dan dapatkanlah kampung abadi sebagai balasannya."

Syair perang si Anak.
Berkat dorongan dan nasehat ibunya, tidak ada rasa takut dalam diri keempat anak Khansa tersebut.
Sambil mengayunkan pedangnya, salah seorang anaknya bersyair,
"Wahai saudara-saudaraku, ibu kita yang banyak pengalaman telah memanggil kita semalam dan membekali dengan nasehat. Semua mutiara yang keluar dari mulutnya semua berfaedah. Insya Allah akan kita buktikan."

"Demi Allah, kami tidak akan melanggar nasehat ibu. Nasehatnya wajib ditaati dengan ikhlas dan rela hati. Segeralah bertempur, gempur musuh hingga kalian lihat keluarga kaisar musnah," kata salah satu saudaranya.

Dalam pertempuran itu, tentara Islam menang telak. Pasukan Persi hanya sedikit saja yang bisa menyelamatkan diri. Sementara itu sebanyak 7 ribu pasukan muslim mati syahid dan diantara empat adalah putra Al-Khansa.

Apakah Nabi Nuh Bertemu Nabi Adam

Sebelumnya, silahkan lihat terlebih dahulu tentang usia Nabi Adam dan keturunannya.

Perbedaan pendapat seperti yang kita lihat dalam kitab Taurat, menunjukkan ada pertemuan antara Nabi Nuh asa dan Nabi Adam as. Benarkah demikian?
Dalam kurun waktu yang sama ada 2 nabi yang diutus meski tidak bersamaan.

Saya berharap kiranya perbedaan ketiga manuskrip ini tidak membuat takut dalam mengartikan kenyataan ini atau menegaskannya. Dilihat dari pertentangannya sangatlah jelas dan banyak tersebar di dalam pasal-pasal Kitab Suci yang terpelihara di tangan yang menurunkannya.

Apa Nabi Nuh as bertemu Nabi Adam as?
Taurat Samiri Menjawab.
Taurat Samiri mengatakan benar, Nuh mengenal Adam as. Nabi Nuh as hidup bersamanya selama 253 tahun tepat. Karena ketika Nabi Nuh as dilahirkan, Adam berusia 677 tahun. Adam hidup selama 930 tahun berdasarkan riwayat Taurat Samiri.

Taurat Ibrani Menjawab.
Tidak. Nabi Nuh as tidak bertemu Adam as. Nabi Nuh as dilahirkan pada 126 tahun setelah meninggalnya Nabi Adam as.

Taurat Yunani Menjawab.
Mereka menyangkal kebenaran Taurat Samiri sepanjang tulisannya. Dan terkadang membenarkan Taurat Samiri dan menyangkal pada kali waktu yang lain.
Tidak, Nabi Nuh as tidak bertemu Nabi Adam as.

Wallahu A'lam...